Sumber : http://www.renungan-spirit.com
Bacaan: Matius 7:1-5
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu ...- Matius 7:3
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu ...- Matius 7:3
Sebuah puisi menulis seperti ini : Jangan mencari kesalahan orang yang timpang
Atau tersandung-sandung di sepanjang jalan kehidupan, Kecuali engkau sudah mengenakan
sepatu yang dipakainya, Atau menanggung beban yang dipikulnya Mungkin ada paku
dalam sepatunya yang melukai kakinya, Meski tersembunyi dari pandanganmu, beban
yang ditanggungnya, bila kaupikul di punggungmu, mungkin ‘kan membuatmu
tersandung pula. Jangan terlalu keras pada orang yang melakukan kesalahan Atau
melempari dia dengan kayu atau batu Kecuali engkau yakin, ya, sangat yakin,
Bahwa kau sendiri tak punya kesalahan.
Saya memiliki kebiasaan buruk, yang hampir semua dari Anda memilikinya juga.
Menilai orang lain dengan poin yang sangat rendah. Dengan mudah kita akan berkata,
begitu saja tak bisa, tak becus, dasar o’on, bodoh, tolol dan perkataan
menyakitkan lainnya. Saat melihat orang lain melakukan kesalahan, dengan mudahnya
kita mengetokkan palu layaknya hakim dan menundingnya dengan sinis, tanpa kita
pernah mau tahu apa alasannya atau hal-hal apa yang membuat ia melakukan hal
itu.
Giliran kita mengalami apa yang ia alami. Atau merasakan apa yang ia rasa.
Atau melakukan apa yang ia lakukan. Belum tentu kita bisa melakukannya dengan
baik, atau jangan-jangan poin kita justru ada dibawahnya. Lihat saja para penonton
bola yang bisanya cuma teriak-teriak dan memaki-maki pemain yang sedikit saja
melakukan kesalahan. Sesekali turun ke lapangan dong, dan tunjukkan permainan
bola Anda!, demikian saya akan menantangnya.
Tak perlu menilai orang lain, sebab kita tidak pernah tahu seperti apa kita
seandainya berada di posisinya. Belajar memahami orang lain jauh lebih baik
daripada kita mengecamnya. Kita bukan manusia yang anti kesalahan, lalu mengapa
kita begitu mudah mencaci kesalahan orang? Paling tidak kita harus pernah mengalaminya
sendiri lebih dulu, barulah kita boleh berkata-kata.
Stop menilai orang lain sebelum kita mengalaminya lebih dulu.
0 comments:
Post a Comment