Wednesday, March 14, 2012

Garam dan Terang Dunia

Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
6 Februari 2011

Yes. 58:1-9a, (9b-12); Mzm. 112:1-9 (10); I Kor. 2:1-12, (13-16); Mat. 5:13-20

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi
gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
 gunung tidak mungkin tersembunyi” (Mat. 5:13-14).
 Garam dan terang merupakan analogi yang konkret, sederhana namun sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Nilai kegunaan garam dan terang tidak perlu diiklankan, namun semua orang mengetahui manfaatnya. Garam dapat dipakai untuk mengawetkan ikan, memberi cita-rasa dalam makanan, menyuburkan tanaman, dan sebagainya. Kehidupan kita sehari-hari juga sangat membutuhkan terang. Tanpa terang, kita tidak dapat melihat dan melakukan aktivitas. Makna garam dan terang merupakan analogi yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menjelaskan suatu nilai dan manfaat hidup yang begitu penting. Kehidupan yang tidak dapat memberi nilai dan manfaat merupakan kehidupan yang sia-sia dan tak layak dijalani. Sebab apa artinya bila hidup kita ternyata membawa kerusakan, kesedihan dan penderitaan bagi sesama? Namun yang mengejutkan, ternyata Tuhan Yesus tidak berkata: “Jadilah garam dan terang dunia”, tetapi: “Kamu adalah garam dan terang dunia”. Kedua kalimat tersebut tampaknya mirip, tetapi memiliki pengertian yang sangat berbeda. Pengertian “Jadilah garam dan terang dunia” menunjuk panggilan agar kita berjuang untuk “menjadi” garam dan terang bagi dunia ini. Tetapi pengertian “Kamu adalah garam dan terang dunia” lebih menunjuk kepada suatu identitas diri dan karakter. Setiap umat percaya memiliki identitas diri dan karakter sebagai garam dan terang bagi dunia ini. Artinya setiap identitas dan karakter umat yang rielnya tidak memiliki “karakter dan fungsi” sebagai garam dan terang, layaklah ia dibuang (Mat. 5:13). Sungguh suatu pengajaran yang mengejutkan dan tanpa kompromi!

                  Pengajaran Tuhan Yesus tersebut menempatkan realisme diri manusia secara positif. Namun juga mengungkapkan suatu idealisme. Realisme kekinian umat yang dinyatakan dalam identitas dan karakternya haruslah ditandai oleh fungsinya yang konstruktif, dan pada pihak lain memiliki suatu idealisme yang harus diperjuangkan tanpa kompromi. Karena itu realisme kekinian setiap umat dengan identitas diri dan karakternya tidak boleh bersifat pasif, tetapi dinamis dan progresif. Identitas diri dan karakter umat sebagai garam dan terang harus melampaui standar penilaian dunia. Tepatnya hidup kerohanian umat percaya tidak boleh di bawah  standar nilai yang berlaku umum dalam masyarakat. Karena itu Tuhan Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20). Kerohanian ahli Taurat dan orang Farisi jelas dianggap lebih tinggi dalam masyarakat Israel waktu itu. Tetapi ternyata standar nilai dan karakter dari Kristus menuntut suatu spiritualitas yang lebih tinggi dari pada pola spiritualitas para ahli Taurat dan orang Farisi. Karena Tuhan Yesus menghendaki suatu “kesempurnaan” hidup rohani: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat. 5:48). Dasar idealisme pengajaran Tuhan Yesus adalah: “sama seperti Allah adalah sempurna”. Idealisme tersebut tentunya tidak bermaksud menyatakan bahwa manusia mampu sempurna seperti Allah yang adalah sempurna. Sebab manusia telah jatuh ke dalam kuasa dosa. Namun sebagai manusia berdosa, kita juga harus memiliki suatu idealisme rohani yang tinggi.

                Setiap umat berdosa, tetapi situasi keberdosaan kita tersebut tidak boleh mendorong kita hanya melihat noda-noda kotoran dosa-dosa. Dengan iman, kita juga harus mampu memandang ke atas untuk menyambut anugerah keselamatan Allah. Dengan realisme diri kita yang berdosa itu, kita disadarkan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu mengerjakan keselamatan bagi dirinya sendiri. Sebab realisme diri kita yang lemah dan berdosa akan diubah Allah menjadi suatu realisme diri yang “sempurna” ketika kita bersedia membuka diri terhadap realisme penebusan Kristus. Hakikat Allah adalah sempurna.  Kristus yang adalah hakikat Firman Allah juga sempurna. Namun dalam inkarnasiNya, Kristus menjadi bagian yang utuh dan eksistensial dengan kehidupan umat manusia. Karena itu melalui hidup dan karya Kristus, setiap umat memiliki harapan dimampukan untuk menyerupai Kristus yang adalah Allah. Di Mat. 5:17, Tuhan Yesus berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Tidak ada seorangpun yang mampu memenuhi tuntutan hukum Taurat dengan kekuatan dan kebajikannya sendiri. Karena itu Kristus datang untuk menggenapi seluruh tuntutan hukum Taurat tersebut. Dengan demikian menjadi jelas, melalui anugerah keselamatan Kristus, kita dimampukan untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat. Jadi seharusnya ibadah, puasa atau kewajiban agama dilakukan karena kuasa kasih Kristus. Makna puasa dihayati sebagai suatu media mengkomunikasikan kasih Allah kepada sesama.

                Di kitab nabi Yesaya, Allah menegur umat Israel yang setiap hari mencari Allah, mengenal segala firmanNya dan rutin berpuasa. Namun motivasi dan praktek keagamaan tersebut diikuti pula dengan perbuatan-perbuatan mereka yang keji kepada sesama. Mereka berpuasa, tetapi juga menganiaya orang-orang yang lemah. Itu sebabnya doa permohonan mereka tidak didengarkan Allah.  Walaupun secara ritual mereka merendahkan diri di hadapan Allah, namun Allah tidak mengindahkan mereka (Yes. 58:3-4).  Sebab yang utama bagi Allah bukanlah tindakan ibadah, tetapi bagaimana suatu ibadah memampukan umat untuk membawa keselamatan dan pembebasan  Allah terhadap sesama yang terbelenggu. Tindakan kasih kepada sesama seharusnya dinyatakan sebagai wujud dari puasa dan ibadah. Umat Israel pada waktu itu gagal memerankan diri sebagai garam dan terang dunia sebab hati mereka belum dibaharui oleh kasih Allah. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan umat percaya. Yang dikehendaki oleh Kristus, bukanlah kemegahan suatu ritualitas, tetapi apakah mereka mempraktekkan kasih Allah secara megah, tak terbatas dan tanpa syarat kepada sesama di sekitarnya.

Doa:
Tuhan Yesus, Engkaulah penggenap seluruh hukum Taurat. Mampukanlah kami dengan kuasa kasihMu untuk menjadi garam dan terang dunia. Dengan demikian, kami dapat menjadi alatMu yang membebaskan dan menyelamatkan setiap orang di sekitar kami. Amin.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More