Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
6 Februari 2011
Yes. 58:1-9a, (9b-12); Mzm. 112:1-9 (10); I Kor. 2:1-12, (13-16); Mat. 5:13-20
“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi
gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
gunung tidak mungkin tersembunyi” (Mat. 5:13-14).
gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
gunung tidak mungkin tersembunyi” (Mat. 5:13-14).
Garam dan terang
merupakan analogi yang konkret, sederhana namun sangat dibutuhkan dalam
kehidupan manusia. Nilai kegunaan garam dan terang tidak perlu
diiklankan, namun semua orang mengetahui manfaatnya. Garam dapat dipakai
untuk mengawetkan ikan, memberi cita-rasa dalam makanan, menyuburkan
tanaman, dan sebagainya. Kehidupan kita sehari-hari juga sangat
membutuhkan terang. Tanpa terang, kita tidak dapat melihat dan melakukan
aktivitas. Makna garam dan terang merupakan analogi yang dipakai oleh
Tuhan Yesus untuk menjelaskan suatu nilai dan manfaat hidup yang begitu
penting. Kehidupan yang tidak dapat memberi nilai dan manfaat merupakan
kehidupan yang sia-sia dan tak layak dijalani. Sebab apa artinya bila
hidup kita ternyata membawa kerusakan, kesedihan dan penderitaan bagi
sesama? Namun yang mengejutkan, ternyata Tuhan Yesus tidak berkata:
“Jadilah garam dan terang dunia”, tetapi: “Kamu adalah garam dan terang
dunia”. Kedua kalimat tersebut tampaknya mirip, tetapi memiliki
pengertian yang sangat berbeda. Pengertian “Jadilah garam dan terang
dunia” menunjuk panggilan agar kita berjuang untuk “menjadi” garam dan
terang bagi dunia ini. Tetapi pengertian “Kamu adalah garam dan terang
dunia” lebih menunjuk kepada suatu identitas diri dan karakter. Setiap
umat percaya memiliki identitas diri dan karakter sebagai garam dan
terang bagi dunia ini. Artinya setiap identitas dan karakter umat yang
rielnya tidak memiliki “karakter dan fungsi” sebagai garam dan terang,
layaklah ia dibuang (Mat. 5:13). Sungguh suatu pengajaran yang
mengejutkan dan tanpa kompromi!
Pengajaran
Tuhan Yesus tersebut menempatkan realisme diri manusia secara positif.
Namun juga mengungkapkan suatu idealisme. Realisme kekinian umat yang
dinyatakan dalam identitas dan karakternya haruslah ditandai oleh
fungsinya yang konstruktif, dan pada pihak lain memiliki suatu idealisme
yang harus diperjuangkan tanpa kompromi. Karena itu realisme kekinian
setiap umat dengan identitas diri dan karakternya tidak boleh bersifat
pasif, tetapi dinamis dan progresif. Identitas diri dan karakter umat
sebagai garam dan terang harus melampaui standar penilaian dunia.
Tepatnya hidup kerohanian umat percaya tidak boleh di bawah standar nilai yang berlaku umum dalam masyarakat. Karena itu Tuhan Yesus berkata:
“Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan
ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20). Kerohanian
ahli Taurat dan orang Farisi jelas dianggap lebih tinggi dalam
masyarakat Israel waktu itu. Tetapi ternyata standar nilai dan karakter
dari Kristus menuntut suatu spiritualitas yang lebih tinggi dari pada
pola spiritualitas para ahli Taurat dan orang Farisi. Karena Tuhan Yesus
menghendaki suatu “kesempurnaan” hidup rohani: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat.
5:48). Dasar idealisme pengajaran Tuhan Yesus adalah: “sama seperti
Allah adalah sempurna”. Idealisme tersebut tentunya tidak bermaksud
menyatakan bahwa manusia mampu sempurna seperti Allah yang adalah
sempurna. Sebab manusia telah jatuh ke dalam kuasa dosa. Namun sebagai
manusia berdosa, kita juga harus memiliki suatu idealisme rohani yang
tinggi.
Setiap
umat berdosa, tetapi situasi keberdosaan kita tersebut tidak boleh
mendorong kita hanya melihat noda-noda kotoran dosa-dosa. Dengan iman,
kita juga harus mampu memandang ke atas untuk menyambut anugerah
keselamatan Allah. Dengan realisme diri kita yang berdosa itu, kita
disadarkan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu mengerjakan keselamatan
bagi dirinya sendiri. Sebab realisme diri kita yang lemah dan berdosa
akan diubah Allah menjadi suatu realisme diri yang “sempurna” ketika
kita bersedia membuka diri terhadap realisme penebusan Kristus. Hakikat
Allah adalah sempurna. Kristus yang adalah hakikat Firman
Allah juga sempurna. Namun dalam inkarnasiNya, Kristus menjadi bagian
yang utuh dan eksistensial dengan kehidupan umat manusia. Karena itu
melalui hidup dan karya Kristus, setiap umat memiliki harapan dimampukan
untuk menyerupai Kristus yang adalah Allah. Di Mat. 5:17, Tuhan Yesus
berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk
meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk
meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Tidak
ada seorangpun yang mampu memenuhi tuntutan hukum Taurat dengan kekuatan
dan kebajikannya sendiri. Karena itu Kristus datang untuk menggenapi
seluruh tuntutan hukum Taurat tersebut. Dengan demikian menjadi jelas,
melalui anugerah keselamatan Kristus, kita dimampukan untuk menggenapi
tuntutan hukum Taurat. Jadi seharusnya ibadah, puasa atau kewajiban
agama dilakukan karena kuasa kasih Kristus. Makna puasa dihayati sebagai
suatu media mengkomunikasikan kasih Allah kepada sesama.
Di
kitab nabi Yesaya, Allah menegur umat Israel yang setiap hari mencari
Allah, mengenal segala firmanNya dan rutin berpuasa. Namun motivasi dan
praktek keagamaan tersebut diikuti pula dengan perbuatan-perbuatan
mereka yang keji kepada sesama. Mereka berpuasa, tetapi juga menganiaya
orang-orang yang lemah. Itu sebabnya doa permohonan mereka tidak
didengarkan Allah. Walaupun secara ritual mereka merendahkan diri di hadapan Allah, namun Allah tidak mengindahkan mereka (Yes. 58:3-4). Sebab
yang utama bagi Allah bukanlah tindakan ibadah, tetapi bagaimana suatu
ibadah memampukan umat untuk membawa keselamatan dan pembebasan Allah
terhadap sesama yang terbelenggu. Tindakan kasih kepada sesama
seharusnya dinyatakan sebagai wujud dari puasa dan ibadah. Umat Israel
pada waktu itu gagal memerankan diri sebagai garam dan terang dunia
sebab hati mereka belum dibaharui oleh kasih Allah. Hal yang sama juga
terjadi dalam kehidupan umat percaya. Yang dikehendaki oleh Kristus,
bukanlah kemegahan suatu ritualitas, tetapi apakah mereka mempraktekkan
kasih Allah secara megah, tak terbatas dan tanpa syarat kepada sesama di
sekitarnya.
Doa:
Tuhan
Yesus, Engkaulah penggenap seluruh hukum Taurat. Mampukanlah kami
dengan kuasa kasihMu untuk menjadi garam dan terang dunia. Dengan
demikian, kami dapat menjadi alatMu yang membebaskan dan menyelamatkan
setiap orang di sekitar kami. Amin.
0 comments:
Post a Comment