Sumber : http://www.griisydney.org
Ringkasan Khotbah GRII Sydney, 13/11/2011
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ingatlah akan Masa Lalu
Nats: Ibrani 10:19-39
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ingatlah akan Masa Lalu
Nats: Ibrani 10:19-39
Ibr.10:19-39 dibagi dalam 3 section yang penting, yang bagi saya merupakan satu penulisan yang begitu indah, teratur dan bahkan seimbang luar biasa di dalam pemaparannya. Section pertama ayat 19-25 bicara mengenai privilege dari Tuhan membuat kita menjadi Gereja, menjadi umat Tuhan. Dan section ini diakhiri dengan satu encouragement dan panggilan pastoral sebagai satu warning di ayat 25 "Janganlah kamu menjauhkan diri dari pertemuan ibadah seperti yang dibiasakan beberapa orang..." Berkumpul sebagai Gereja, berbakti, berdoa dan beribadah setiap minggu adalah suatu privilege, satu hak istimewa yang tidak boleh dianggap murahan dan semaunya. Hargai privilege yang sudah dibayar oleh Tuhan Yesus dengan darahNya yang mulia dan berharga itu.
Section kedua ayat 26-31, sebagai Gereja diimbangi, selain ada privilege juga ada responsibility, selain ada privilege juga ada warning. Maka penulis di sini memberikan satu warning yang serius, jangan sampai ada orang yang sudah mendapatkan anugerah tetapi dihina, dibuang, diinjak-injak di depan umum. Ini merupakan warning kepada orang yang datang ke Gereja, orang yang ada dalam komunitas Kristen. Lalu section ini ditutup dengan satu kalimat, "Ngeri benar jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup itu" (ayat 31).
Section ketiga ayat 32-39, penulis Ibrani mengatakan, "Ingatlah akan masa lalu, dari awal engkau menjadi orang Kristen, bagaimana perjalanan hidupmu..." There is a rememberance. Ada ingatan, ada memori yang harus kita ingat selalu di dalam perjalanan iman kita. Lalu section ini diakhiri dengan kalimat proklamasi yang luar biasa indah, "We are not those who are shrink back and destroyed, but we are those who are believe and alive..." (ayat 39).
Dalam Australian Open turnamen golf minggu kemarin, selain media kota Sydney ramai bicara mengenai Tiger Woods yang hadir dan bertanding, pembicaraan juga ramai berkisar mengenai insiden pada hari pertama, yaitu mengenai salah satu peserta bernama John Daly. Setelah membuat kesalahan di beberapa hole, lalu tujuh bola masuk ke air, dia walk out meninggalkan lapangan dan tidak main lagi. Tindakan ini menimbulkan kontroversi dan akhirnya PGA Australia untuk tidak lagi mengundang dia untuk mengikuti kompetisi golf yang akan dilaksanakan minggu depan di Brisbane. Saya setuju dengan keputusan ini. Turnamen major biasanya hanya mengutamakan pemain yang berada di ranking 1-120, dan baru sisanya diberikan kepada pemain yang berkisar di ranking 200-an. Untuk sampai kepada turnamen itu, mereka harus berjuang sangat keras untuk menang di berbagai pertandingan sebelumnya. Tetapi John Daly bisa ikut dalam Australian Open bukan karena dia hebat, karena fakta rankingnya merosot di 600-an. Daly tidak layak untuk main; Daly tidak punya hak untuk main; Daly tidak punya pass untuk main. John Daly datang main golf di Australian Open karena panitia mengundang dia. Ini satu hak istimewa yang diberikan karena publik Australia menyukai kehadirannya. Tetapi orang ini tidak menghargai dan tidak respek kepada turnamen. Anugerah sudah diberi, kesempatan sudah dikasih, tetapi akhirnya menjadi sesuatu yang diremehkan. Kadang-kadang orang yang terus dapat privilege seperti ini merasa dia boleh saja seenaknya melakukan sesuatu semaunya. Itu adalah sikap yang childish dan kekanak-kanakan. Kita bukan anak kecil. Bagi saya walaupun susah setengah mati berjuang, tidak bisa seenaknya ditinggal begitu. Saudara juga waktu sedang ujian sekolah, mentok coba jawab soal ujian yang sangat sulit, saudara tidak bisa main walk out begitu saja, bukan? Dimana saja dalam hidup kita, tidak bisa pakai cara seperti itu. Apalagi kalau itu adalah satu privilege, satu undangan, satu kesempatan
yang begitu berharga diberikan seperti itu, seharusnya diterima dengan syukur dan tidak boleh akhirnya diremehkan dengan cara seperti itu.
Dalam PL, tiga kali setahun orang Yahudi dari segala tempat di berbagai negara harus datang ke Bait Allah di Yerusalem untuk beribadah di sana. Itu adalah momen dan hari yang sangat berharga bagi orang Israel dalam PL, terutama hari Penebusan Dosa yang dirayakan satu kali setahun. Tidak banyak orang yang boleh masuk ke dalam ruang maha kudus di Bait Allah. Tidak sembarang imam boleh datang melayani mezbah Tuhan yang suci itu. Satu tahun sekali dipilihlah seorang imam untuk masuk ke balik tirai ruang maha kudus, untuk memercikkan darah domba di atas tabut perjanjian sebagai permohonan untuk menyucikan dosanya terlebih dahulu. Sesudah itu imam itu mengambil hisop dan memercikkan darah domba menjadi wakil dari seluruh jemaat untuk disucikan dari dosa-dosa mereka.
Orang yang hanya bisa datang tiga kali dalam setahun begitu menghargai kesempatan itu dan sangat merindukan momen-momen itu, hari dimana mereka bisa bersukacita bersekutu dengan Tuhan. Itu yang dikatakan oleh mazmur-mazmur ziarah mereka. Itulah Perjanjian yang Lama. Tetapi kita yang ada di dalam Perjanjian yang Baru, kapan saja kita datang kepada Tuhan, kita tidak perlu tunggu. Kita bisa datang menghampiriNya kapan saja. Melalui Kristus Yesus kita mendapat 'free access'; melali Yesus Kristus kita mempunyai 'free pass' untuk datang kapan saja kepada Allah yang maha kudus. Ketika kita berdoa kepadaNya, Ia mendengar seruan doa permohonan kita. Setiap minggu kita berbakti, Tuhan hadir di tengah-tengah kita. Itu sebab kesempatan yang indah dan baik ini justru menjadikan kita semakin giat dan menghargainya dengan sungguh. Memang aneh, tetapi itulah cara berpikir orang berdosa yang sesungguhnya tidak boleh ada, kita yang bisa datang setiap minggu akhirnya meremehkan kesempatan itu.
Dalam section ke dua, penulis Ibrani bicara mengenai warning yang muncul, hati-hati terhadap sikap orang yang mengaku Kristen, yang ada di dalam Gereja, yang sudah mengaku sebagai orang percaya. Memang menjadi kesulitan kita adalah kita tidak tahu siapa orang Kristen yang sejati karena tidak ada tanda eksternal yang menyertainya. Itu sebab warning ini perlu diberikan di tengah-tengah komunitas Gereja. Adanya warning tidak berarti orang yang diberi warning akan melanggar hal ini. Sebab bukan datang dari berapa kuat imanku yang menentukan saya tetap terpelihara sampai akhir atau tidak, tetapi itu berkaitan dengan soal kepada siapa kita beriman, itu yang menjadi penting. Tuhan yang telah memulai iman di dalam hidup kita, Ia juga yang memimpin iman kita sampai akhir.
Maka hari ini saya ajak saudara memperhatikan Ibr.6:4-6 sebagai warning yang sama dengan Ibr.10 ini, yaitu jangan sampai ada orang yang menghina dan menginjak-injak darah Anak Domba Allah yang sudah menebus mereka dan memurahkan kasih karuniaNya. Tindakan orang di Ibr.6:6 ini adalah "menghina Anak Allah di depan umum..." berarti ada satu 'public rejection' terhadap Tuhan Yesus padahal sebelumnya pernah ada 'public announcement' juga bahwa ia adalah orang percaya.
Siapa sesungguhnya kelompok orang yang dimaksud oleh penulis Ibrani ini? F.F. Bruce menafsirkan empat hal yang dikatakan di Ibr.6:4-6 ini sebagai aktifitas Gereja yang eksternal dan kelihatan, yaitu orang ini datang berbakti, pernah dibaptis, pernah mengikuti perjamuan kudus, pernah ambil bagian dalam pelayanan, dsb. Tetapi aktifitas-aktifitas eksternal ini tidak menjamin apakah orang itu benar-benar orang Kristen sejati, karena tidak ada orang yang tahu apa yang ada di dalam hati seseorang, apakah dia sungguh-sungguh lahir baru. Orang yang sudah tahu ini adalah obat satu-satunya yang bisa menyembuhkan dia lalu dengan sengaja menghina dan menolaknya, itulah orang yang dikategorikan sebagai orang yang murtad. Maka firman Tuhan mengatakan orang itu tidak akan dibaharui sekali lagi. 'Drifting away' itu adalah sesuatu yang kadang-kadang samar dan tidak kelihatan. Saudara dan saya
waktu berada di atas kapal memancing di tengah laut, kita tidak sadar kalau kapal kita drifting away. Kita pikir kita berada di spot yang sama karena kita lihat ke kanan dan ke kiri semua hanya air, padahal ternyata kapal itu sudah bergeser jauh. Orang yang diving juga begitu, lihat coral di bawah laut kelihatannya di situ-situ saja, tidak sadar dia sudah bergeser jauh dari spot pertama.
Itu sebab Ibr.10 memberi warning "jangan membiasakan diri..."
Hidup kita itu tidak terlepas dari struktur habit. Apa yang kita kerjakan dan lakukan setiap hari berangkat dari bagaimana kita meletakkan kebiasaan. Kebiasaan itu cuma dua macam, kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Pada waktu kita mau melepaskan kebiasaan buruk, itu membutuhkan kekuatan besar untuk meneguhkan dan menetapkan satu kebiasaan yang baik. Dengan memberi warning "jangan membiasakan diri..." penulis Ibrani mengingatkan kepada jemaat yang ada, seseorang yang imannya 'drift away' itu terjadi sedikit demi sedikit, tidak terlalu kelihatan. Pelan-pelan dia pergi dan terbiasa dengan kebiasaan itu. Salah satu rekan kerja rasul Paulus yang bernama Demas juga seperti itu. Alkitab hanya mencatat namanya tiga kali disebutkan (Flm.1:24, Kol.4:14, 2 Tim.4:10). Kita bisa menemukan di situ nampaknya ada keadaan drifting away yang terjadi pada diri Demas. Paulus sadar akan hal itu. Maka dalam surat Filemon ia hanya mengatakan "rekanku Demas." Kemudian dalam Kolose Paulus hanya menyebut "dari Demas" dan tidak menyebut apa-apa lagi. Seolah ada sesuatu yang terjadi pada diri Demas yang Paulus merasakannya meskipun tidak menyebutkannya. Nanti di surat 2 Timotius baru dengan terbuka Paulus mengatakan kepada Timotius "...karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku..."
Kita tidak perlu kaget dan shock kepada orang-orang Kristen yang kita rasa baik di dalam Gereja tetapi akhirnya drifted away dan hilang dan meninggalkan Gereja dan tidak lagi mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhannya. Mereka yang menjadi hamba Tuhan juga seperti Demas, yang pernah sama-sama melayani dengan Paulus, bisa drifted away dan meninggalkan Tuhan. Berangkat darimana sebenarnya persoalan itu sampai seseorang bisa mengalami penyimpangan? Yaitu waktu engkau mulai "terbiasa" dengan kebiasaan-kebiasaan yang kita pikir 'biasa' tetapi sebenarnya 'berbisa.'
Lalu bagaimana saya tahu bahwa imanku teguh? Bagaimana saya tahu bahwa keselamatanku tidak akan hilang? Ibr.10:19 mengatakan pengharapan kita seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Sebab kenapa? Sebab sauh atau jangkar itu dilabuhkan kepada Kristus yang adalah Imam Besar kita yang sudah masuk terlebih dahulu ke belakang tabir itu. Itu adalah suatu kalimat figuratif yang memberi kita gambaran hidup iman kita seperti sebuah kapal, pada waktu jangkar itu sudah kita lemparkan ke tengah laut, ia akan tersangkut pada batu di dasar laut. Wajar kalau sesekali kita akan bertanya, apakah jangkar itu masih kuat tersangkut di bawah sana atau tidak. Di atas permukaan air kapal iman kita bisa dihempas oleh ombak dan badai, diombang-ambing angin kencang, dst. Itulah perjalanan hidup kita yang memiliki iman yang saya sebut sebagai "subjective faith." Iman kita itu bisa berfluktuasi, sehingga Alkitab mengatakan ada orang yang imannya kuat, ada orang yang imannya lemah; ada orang yang imannya mungkin tersandung, ada orang yang imannya kecewa, dsb. Itulah iman yang subyektif, yang fluktuasi, bisa naik dan turun, bisa kuat dan lemah, mengalami ombang-ambing karena kesulitan hidup, karena badai, karena tantangan, karena kekecewaan. Semua itu bisa terjadi dalam hidup kita. Subjective faith bisa membuat kita menjadi ragu, mungkinkah keselamatanku bisa hilang, tetapi tidak berarti secara faktual dan realita tidak ada iman di dalam diri orang itu. Subjective faith bisa membuat orang berpikir jangkarnya tidak bertaut dengan Batu Karang, tetapi tidak berarti secara aktual jangkarnya tidak bertaut. Itu bukan bergantung kepada subjective faith kita yang gampang berubah, tetapi karena saya tahu saya memiliki Objective Faith, yaitu iman yang bertaut kepada Batu Karang yang kokoh itu. Ketika kita percaya dengan sungguh kepada Kristus, Ia menjadi Imam Besar kita untuk selama-lamanya. Ia sudah mati bagi dosa-dosa kita. Kita boleh berkata kepadaNya, Tuhan, Engkau yang telah memulai iman di
dalam diriku, Engkau juga yang akan memelihara dan memimpinnya sampai akhir. Di tengah perjalanan itu tetap firman Tuhan mengingatkan dan memberi warning kepada kita. Pertama, jangan drifted away. Kedua, jangan menjadi orang yang willfully sinning. Maka kalau Tuhan datang mengingatkan kita hari demi hari, teguran firman Tuhan harus menjadi teguran yang mendatangkan kerendahan hati, kita bertobat hari demi hari. Pada waktu kita tahu kita telah berbuat salah, mari dengan hati yang hancur kita berbalik kepada Tuhan, kita memperbaiki diri di hadapan Tuhan. Di situlah kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Tuhan dan milik Tuhan selama-lamanya. Tetapi mereka yang sudah salah, dengan sengaja terus melakukan kesalahan, menyembunyikan kesalahan dan walaupun terus-menerus ditegur tetapi tidak bertobat dan mengalami perubahan, satu kali kelak orang itu murtad, pergi meninggalkan Tuhan, kita tidak heran, sebab dia tidak menghargai Kristus sudah menebus dosanya. Maka saya tidak tahu apakah engkau orang Kristen sejatikah, karena memang tidak ada tanda eksternal menyertai imanmu, biar peringatan dan warning yang kita terima hari ini terus mengoreksi iman kita.
Yang kedua, peringatan yang muncul di bagian ketiga ini adalah jangan kita lupa apa yang pernah terjadi dalam hidup kita di masa lampau. Ibr.10:30 "Rememberance your old days." Ingatlah akan masa lalumu. Normal kita hanya mau mengingat hal-hal yang baik dan memori yang indah dan manis di masa lalu dan mengubur dalam-dalam memori yang tidak menyenangkan. Namun Penulis Ibrani mengatakan kita untuk mengingat masa lalu yang susah dan sulit.
Saya ajak saudara membandingkan bagian ini dengan kalimat Paulus dalam Fil.3:13, Paulus mengatakan, "Aku melupakan apa yang telah di belakangku..." Firman Tuhan yang satu mengatakan, ingat masa lalumu. Firman Tuhan yang satu mengatakan, lupakan masa lalumu. Yang sudah lewat, lewatlah. Yang sudah pergi, pergilah. Melupakan apa yang sudah di belakang, apa yang sudah lewat. Tetapi Ibrani mengatakan, jangan lupa apa yang sudah lewat. Bagaimana mensinkronkan dua ayat ini?
Lupakan hal-hal yang gagal, yang justru menghambat kita untuk maju; tetapi ingatlah hal-hal yang gagal yang terjadi untuk mengintrospeksi diri kita menjadi lebih baik sekarang dan yang akan datang. Lupakan hal-hal yang buruk menimpa dirimu, yang hanya membuat engkau menjadi pahit dan sakit hati; tetapi ingatlah hal-hal yang buruk menimpa supaya kita bisa bersyukur kepada Tuhan kita boleh ada sekarang itu tidak terlepas dari tangan Tuhan yang membentuk di masa kita sedih dan menangis. Lupakan juga hal-hal sukses di masa lalu, yang melemahkan engkau untuk maju dan membius engkau terus puas diri dan takabur; tetapi ingatlah akan hal-hal yang sukses supaya kita tahu bersyukur menghargai anugerah Tuhan di masa sekarang dan yang akan datang. Jadi bukan soal yang gagal harus dibuang; bukan soal yang buruk harus dilupakan; bukan soal yang sukses harus diingat. Bukan itu semua yang menentukan kita harus lupakan atau ingat-ingat. Tetapi yang penting adalah pada waktu kita mengingat dan tidak melupakan apa yang sudah ada, kita tahu untuk apa kita mengingatnya.
Ingatlah akan masa yang lalu. Apa yang diminta oleh penulis Ibrani untuk kita ingat-ingat? Karena perjalanan hidup mereka menjadi anak Tuhan adalah suatu perjalanan yang penuh dengan pengorbanan yang luar biasa. Gereja pada masa sekarang banyak menjanjikan kalau engkau menjadi anak Tuhan engkau tidak akan mengalami kesulitan, tidak ada penyakit, tidak ada tantangan. Tetapi ayat 32 menggambarkan keadaan yang terbalik, justru pada waktu mereka percaya Tuhan, menjadi anak Tuhan, mereka banyak menderita, mereka bertahan di dalam perjuangan yang berat, menerima cercaan dan hinaan di depan orang banyak.
Ayat 33 kalau diterjemahkan lebih hurufiah, ingatlah akan masa lalu waktu engkau 'put contest' di dalam kehidupan bergerejamu, saling "membanggakan" siapa yang lebam-lebam dipukuli karena iman percayanya. Betapa bahagianya mereka pada waktu itu. Bahkan meskipun tidak semua jemaat
mengalami hal-hal itu, tetapi mereka berbagian di dalam penderitaan mereka. Intinya, mereka di masa lalu menjadi orang Kristen, mereka sudah menghadapi kesulitan dan penderitaan, namun mereka tidak pernah kecewa dan lari meninggalkan Tuhan. Bahkan setiap kali mereka datang berkumpul, mereka 'contest' dalam pengertian ada sukacita mereka berbagian di dalam penderitaan Kristus. Ada yang rumahnya dirampas, ada yang hartanya diambil, ada yang dipermalukan menjadi tontonan di depan umum, ada yang ditangkap dan dipenjara karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Itu yang menjadi kehidupan mereka pada masa yang lalu. Penulis meminta mereka untuk mengingat dan tidak lupa hal itu.
Bagian ini menjadi satu bagian yang mengajak kita untuk terus-menerus bertumbuh, didorong oleh firman Tuhan, dikuatkan oleh firman Tuhan, dihiburkan oleh firman Tuhan. Walaupun mengalami kesulitan dalam hidup, menghadapi itu firman Tuhan bilang, tekun, sabar, bertahan, berjuang di situ. Kenapa? Karena memang itu adalah suatu anugerah yang indah yang Tuhan beri kepada kita. Di satu sisi ada simpati Tuhan mengingatkan kita indah privilege itu. Tetapi di sisi lain ada warning dari Tuhan, menjadi satu balancing yang tidak pernah Tuhan abaikan. Yang kedua, selalu ingatkan baik-baik apa yang Tuhan sudah beri kepada kita, supaya ingatan itu memberikan dorongan kepada kita untuk melakukan hal yang lebih baik dan lebih indah di masa sekarang. Bertekun, bertahan, bersabar menghadapi semua yang kita alami. Jemaat yang sudah drifted away, yang mulai gelisah, takut, kuatir akan kesulitan dan penderitaan mempengaruhi hidup mereka, dunia yang mencekik dan menekan, membuat mereka kocar-kacir, jangan buang anugerah Tuhan. Jangan sampai kita ingat terus kesulitan dan kesedihan, menjadikan kita akhirnya hilang dan lari dari Tuhan. Ingat, supaya kita bangkit. Ingat, supaya kita lebih kuat. Ingat, supaya kita menjadi lebih indah di hadapan Tuhan.(kz)
Section kedua ayat 26-31, sebagai Gereja diimbangi, selain ada privilege juga ada responsibility, selain ada privilege juga ada warning. Maka penulis di sini memberikan satu warning yang serius, jangan sampai ada orang yang sudah mendapatkan anugerah tetapi dihina, dibuang, diinjak-injak di depan umum. Ini merupakan warning kepada orang yang datang ke Gereja, orang yang ada dalam komunitas Kristen. Lalu section ini ditutup dengan satu kalimat, "Ngeri benar jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup itu" (ayat 31).
Section ketiga ayat 32-39, penulis Ibrani mengatakan, "Ingatlah akan masa lalu, dari awal engkau menjadi orang Kristen, bagaimana perjalanan hidupmu..." There is a rememberance. Ada ingatan, ada memori yang harus kita ingat selalu di dalam perjalanan iman kita. Lalu section ini diakhiri dengan kalimat proklamasi yang luar biasa indah, "We are not those who are shrink back and destroyed, but we are those who are believe and alive..." (ayat 39).
Dalam Australian Open turnamen golf minggu kemarin, selain media kota Sydney ramai bicara mengenai Tiger Woods yang hadir dan bertanding, pembicaraan juga ramai berkisar mengenai insiden pada hari pertama, yaitu mengenai salah satu peserta bernama John Daly. Setelah membuat kesalahan di beberapa hole, lalu tujuh bola masuk ke air, dia walk out meninggalkan lapangan dan tidak main lagi. Tindakan ini menimbulkan kontroversi dan akhirnya PGA Australia untuk tidak lagi mengundang dia untuk mengikuti kompetisi golf yang akan dilaksanakan minggu depan di Brisbane. Saya setuju dengan keputusan ini. Turnamen major biasanya hanya mengutamakan pemain yang berada di ranking 1-120, dan baru sisanya diberikan kepada pemain yang berkisar di ranking 200-an. Untuk sampai kepada turnamen itu, mereka harus berjuang sangat keras untuk menang di berbagai pertandingan sebelumnya. Tetapi John Daly bisa ikut dalam Australian Open bukan karena dia hebat, karena fakta rankingnya merosot di 600-an. Daly tidak layak untuk main; Daly tidak punya hak untuk main; Daly tidak punya pass untuk main. John Daly datang main golf di Australian Open karena panitia mengundang dia. Ini satu hak istimewa yang diberikan karena publik Australia menyukai kehadirannya. Tetapi orang ini tidak menghargai dan tidak respek kepada turnamen. Anugerah sudah diberi, kesempatan sudah dikasih, tetapi akhirnya menjadi sesuatu yang diremehkan. Kadang-kadang orang yang terus dapat privilege seperti ini merasa dia boleh saja seenaknya melakukan sesuatu semaunya. Itu adalah sikap yang childish dan kekanak-kanakan. Kita bukan anak kecil. Bagi saya walaupun susah setengah mati berjuang, tidak bisa seenaknya ditinggal begitu. Saudara juga waktu sedang ujian sekolah, mentok coba jawab soal ujian yang sangat sulit, saudara tidak bisa main walk out begitu saja, bukan? Dimana saja dalam hidup kita, tidak bisa pakai cara seperti itu. Apalagi kalau itu adalah satu privilege, satu undangan, satu kesempatan
yang begitu berharga diberikan seperti itu, seharusnya diterima dengan syukur dan tidak boleh akhirnya diremehkan dengan cara seperti itu.
Dalam PL, tiga kali setahun orang Yahudi dari segala tempat di berbagai negara harus datang ke Bait Allah di Yerusalem untuk beribadah di sana. Itu adalah momen dan hari yang sangat berharga bagi orang Israel dalam PL, terutama hari Penebusan Dosa yang dirayakan satu kali setahun. Tidak banyak orang yang boleh masuk ke dalam ruang maha kudus di Bait Allah. Tidak sembarang imam boleh datang melayani mezbah Tuhan yang suci itu. Satu tahun sekali dipilihlah seorang imam untuk masuk ke balik tirai ruang maha kudus, untuk memercikkan darah domba di atas tabut perjanjian sebagai permohonan untuk menyucikan dosanya terlebih dahulu. Sesudah itu imam itu mengambil hisop dan memercikkan darah domba menjadi wakil dari seluruh jemaat untuk disucikan dari dosa-dosa mereka.
Orang yang hanya bisa datang tiga kali dalam setahun begitu menghargai kesempatan itu dan sangat merindukan momen-momen itu, hari dimana mereka bisa bersukacita bersekutu dengan Tuhan. Itu yang dikatakan oleh mazmur-mazmur ziarah mereka. Itulah Perjanjian yang Lama. Tetapi kita yang ada di dalam Perjanjian yang Baru, kapan saja kita datang kepada Tuhan, kita tidak perlu tunggu. Kita bisa datang menghampiriNya kapan saja. Melalui Kristus Yesus kita mendapat 'free access'; melali Yesus Kristus kita mempunyai 'free pass' untuk datang kapan saja kepada Allah yang maha kudus. Ketika kita berdoa kepadaNya, Ia mendengar seruan doa permohonan kita. Setiap minggu kita berbakti, Tuhan hadir di tengah-tengah kita. Itu sebab kesempatan yang indah dan baik ini justru menjadikan kita semakin giat dan menghargainya dengan sungguh. Memang aneh, tetapi itulah cara berpikir orang berdosa yang sesungguhnya tidak boleh ada, kita yang bisa datang setiap minggu akhirnya meremehkan kesempatan itu.
Dalam section ke dua, penulis Ibrani bicara mengenai warning yang muncul, hati-hati terhadap sikap orang yang mengaku Kristen, yang ada di dalam Gereja, yang sudah mengaku sebagai orang percaya. Memang menjadi kesulitan kita adalah kita tidak tahu siapa orang Kristen yang sejati karena tidak ada tanda eksternal yang menyertainya. Itu sebab warning ini perlu diberikan di tengah-tengah komunitas Gereja. Adanya warning tidak berarti orang yang diberi warning akan melanggar hal ini. Sebab bukan datang dari berapa kuat imanku yang menentukan saya tetap terpelihara sampai akhir atau tidak, tetapi itu berkaitan dengan soal kepada siapa kita beriman, itu yang menjadi penting. Tuhan yang telah memulai iman di dalam hidup kita, Ia juga yang memimpin iman kita sampai akhir.
Maka hari ini saya ajak saudara memperhatikan Ibr.6:4-6 sebagai warning yang sama dengan Ibr.10 ini, yaitu jangan sampai ada orang yang menghina dan menginjak-injak darah Anak Domba Allah yang sudah menebus mereka dan memurahkan kasih karuniaNya. Tindakan orang di Ibr.6:6 ini adalah "menghina Anak Allah di depan umum..." berarti ada satu 'public rejection' terhadap Tuhan Yesus padahal sebelumnya pernah ada 'public announcement' juga bahwa ia adalah orang percaya.
Siapa sesungguhnya kelompok orang yang dimaksud oleh penulis Ibrani ini? F.F. Bruce menafsirkan empat hal yang dikatakan di Ibr.6:4-6 ini sebagai aktifitas Gereja yang eksternal dan kelihatan, yaitu orang ini datang berbakti, pernah dibaptis, pernah mengikuti perjamuan kudus, pernah ambil bagian dalam pelayanan, dsb. Tetapi aktifitas-aktifitas eksternal ini tidak menjamin apakah orang itu benar-benar orang Kristen sejati, karena tidak ada orang yang tahu apa yang ada di dalam hati seseorang, apakah dia sungguh-sungguh lahir baru. Orang yang sudah tahu ini adalah obat satu-satunya yang bisa menyembuhkan dia lalu dengan sengaja menghina dan menolaknya, itulah orang yang dikategorikan sebagai orang yang murtad. Maka firman Tuhan mengatakan orang itu tidak akan dibaharui sekali lagi. 'Drifting away' itu adalah sesuatu yang kadang-kadang samar dan tidak kelihatan. Saudara dan saya
waktu berada di atas kapal memancing di tengah laut, kita tidak sadar kalau kapal kita drifting away. Kita pikir kita berada di spot yang sama karena kita lihat ke kanan dan ke kiri semua hanya air, padahal ternyata kapal itu sudah bergeser jauh. Orang yang diving juga begitu, lihat coral di bawah laut kelihatannya di situ-situ saja, tidak sadar dia sudah bergeser jauh dari spot pertama.
Itu sebab Ibr.10 memberi warning "jangan membiasakan diri..."
Hidup kita itu tidak terlepas dari struktur habit. Apa yang kita kerjakan dan lakukan setiap hari berangkat dari bagaimana kita meletakkan kebiasaan. Kebiasaan itu cuma dua macam, kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Pada waktu kita mau melepaskan kebiasaan buruk, itu membutuhkan kekuatan besar untuk meneguhkan dan menetapkan satu kebiasaan yang baik. Dengan memberi warning "jangan membiasakan diri..." penulis Ibrani mengingatkan kepada jemaat yang ada, seseorang yang imannya 'drift away' itu terjadi sedikit demi sedikit, tidak terlalu kelihatan. Pelan-pelan dia pergi dan terbiasa dengan kebiasaan itu. Salah satu rekan kerja rasul Paulus yang bernama Demas juga seperti itu. Alkitab hanya mencatat namanya tiga kali disebutkan (Flm.1:24, Kol.4:14, 2 Tim.4:10). Kita bisa menemukan di situ nampaknya ada keadaan drifting away yang terjadi pada diri Demas. Paulus sadar akan hal itu. Maka dalam surat Filemon ia hanya mengatakan "rekanku Demas." Kemudian dalam Kolose Paulus hanya menyebut "dari Demas" dan tidak menyebut apa-apa lagi. Seolah ada sesuatu yang terjadi pada diri Demas yang Paulus merasakannya meskipun tidak menyebutkannya. Nanti di surat 2 Timotius baru dengan terbuka Paulus mengatakan kepada Timotius "...karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku..."
Kita tidak perlu kaget dan shock kepada orang-orang Kristen yang kita rasa baik di dalam Gereja tetapi akhirnya drifted away dan hilang dan meninggalkan Gereja dan tidak lagi mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhannya. Mereka yang menjadi hamba Tuhan juga seperti Demas, yang pernah sama-sama melayani dengan Paulus, bisa drifted away dan meninggalkan Tuhan. Berangkat darimana sebenarnya persoalan itu sampai seseorang bisa mengalami penyimpangan? Yaitu waktu engkau mulai "terbiasa" dengan kebiasaan-kebiasaan yang kita pikir 'biasa' tetapi sebenarnya 'berbisa.'
Lalu bagaimana saya tahu bahwa imanku teguh? Bagaimana saya tahu bahwa keselamatanku tidak akan hilang? Ibr.10:19 mengatakan pengharapan kita seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Sebab kenapa? Sebab sauh atau jangkar itu dilabuhkan kepada Kristus yang adalah Imam Besar kita yang sudah masuk terlebih dahulu ke belakang tabir itu. Itu adalah suatu kalimat figuratif yang memberi kita gambaran hidup iman kita seperti sebuah kapal, pada waktu jangkar itu sudah kita lemparkan ke tengah laut, ia akan tersangkut pada batu di dasar laut. Wajar kalau sesekali kita akan bertanya, apakah jangkar itu masih kuat tersangkut di bawah sana atau tidak. Di atas permukaan air kapal iman kita bisa dihempas oleh ombak dan badai, diombang-ambing angin kencang, dst. Itulah perjalanan hidup kita yang memiliki iman yang saya sebut sebagai "subjective faith." Iman kita itu bisa berfluktuasi, sehingga Alkitab mengatakan ada orang yang imannya kuat, ada orang yang imannya lemah; ada orang yang imannya mungkin tersandung, ada orang yang imannya kecewa, dsb. Itulah iman yang subyektif, yang fluktuasi, bisa naik dan turun, bisa kuat dan lemah, mengalami ombang-ambing karena kesulitan hidup, karena badai, karena tantangan, karena kekecewaan. Semua itu bisa terjadi dalam hidup kita. Subjective faith bisa membuat kita menjadi ragu, mungkinkah keselamatanku bisa hilang, tetapi tidak berarti secara faktual dan realita tidak ada iman di dalam diri orang itu. Subjective faith bisa membuat orang berpikir jangkarnya tidak bertaut dengan Batu Karang, tetapi tidak berarti secara aktual jangkarnya tidak bertaut. Itu bukan bergantung kepada subjective faith kita yang gampang berubah, tetapi karena saya tahu saya memiliki Objective Faith, yaitu iman yang bertaut kepada Batu Karang yang kokoh itu. Ketika kita percaya dengan sungguh kepada Kristus, Ia menjadi Imam Besar kita untuk selama-lamanya. Ia sudah mati bagi dosa-dosa kita. Kita boleh berkata kepadaNya, Tuhan, Engkau yang telah memulai iman di
dalam diriku, Engkau juga yang akan memelihara dan memimpinnya sampai akhir. Di tengah perjalanan itu tetap firman Tuhan mengingatkan dan memberi warning kepada kita. Pertama, jangan drifted away. Kedua, jangan menjadi orang yang willfully sinning. Maka kalau Tuhan datang mengingatkan kita hari demi hari, teguran firman Tuhan harus menjadi teguran yang mendatangkan kerendahan hati, kita bertobat hari demi hari. Pada waktu kita tahu kita telah berbuat salah, mari dengan hati yang hancur kita berbalik kepada Tuhan, kita memperbaiki diri di hadapan Tuhan. Di situlah kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Tuhan dan milik Tuhan selama-lamanya. Tetapi mereka yang sudah salah, dengan sengaja terus melakukan kesalahan, menyembunyikan kesalahan dan walaupun terus-menerus ditegur tetapi tidak bertobat dan mengalami perubahan, satu kali kelak orang itu murtad, pergi meninggalkan Tuhan, kita tidak heran, sebab dia tidak menghargai Kristus sudah menebus dosanya. Maka saya tidak tahu apakah engkau orang Kristen sejatikah, karena memang tidak ada tanda eksternal menyertai imanmu, biar peringatan dan warning yang kita terima hari ini terus mengoreksi iman kita.
Yang kedua, peringatan yang muncul di bagian ketiga ini adalah jangan kita lupa apa yang pernah terjadi dalam hidup kita di masa lampau. Ibr.10:30 "Rememberance your old days." Ingatlah akan masa lalumu. Normal kita hanya mau mengingat hal-hal yang baik dan memori yang indah dan manis di masa lalu dan mengubur dalam-dalam memori yang tidak menyenangkan. Namun Penulis Ibrani mengatakan kita untuk mengingat masa lalu yang susah dan sulit.
Saya ajak saudara membandingkan bagian ini dengan kalimat Paulus dalam Fil.3:13, Paulus mengatakan, "Aku melupakan apa yang telah di belakangku..." Firman Tuhan yang satu mengatakan, ingat masa lalumu. Firman Tuhan yang satu mengatakan, lupakan masa lalumu. Yang sudah lewat, lewatlah. Yang sudah pergi, pergilah. Melupakan apa yang sudah di belakang, apa yang sudah lewat. Tetapi Ibrani mengatakan, jangan lupa apa yang sudah lewat. Bagaimana mensinkronkan dua ayat ini?
Lupakan hal-hal yang gagal, yang justru menghambat kita untuk maju; tetapi ingatlah hal-hal yang gagal yang terjadi untuk mengintrospeksi diri kita menjadi lebih baik sekarang dan yang akan datang. Lupakan hal-hal yang buruk menimpa dirimu, yang hanya membuat engkau menjadi pahit dan sakit hati; tetapi ingatlah hal-hal yang buruk menimpa supaya kita bisa bersyukur kepada Tuhan kita boleh ada sekarang itu tidak terlepas dari tangan Tuhan yang membentuk di masa kita sedih dan menangis. Lupakan juga hal-hal sukses di masa lalu, yang melemahkan engkau untuk maju dan membius engkau terus puas diri dan takabur; tetapi ingatlah akan hal-hal yang sukses supaya kita tahu bersyukur menghargai anugerah Tuhan di masa sekarang dan yang akan datang. Jadi bukan soal yang gagal harus dibuang; bukan soal yang buruk harus dilupakan; bukan soal yang sukses harus diingat. Bukan itu semua yang menentukan kita harus lupakan atau ingat-ingat. Tetapi yang penting adalah pada waktu kita mengingat dan tidak melupakan apa yang sudah ada, kita tahu untuk apa kita mengingatnya.
Ingatlah akan masa yang lalu. Apa yang diminta oleh penulis Ibrani untuk kita ingat-ingat? Karena perjalanan hidup mereka menjadi anak Tuhan adalah suatu perjalanan yang penuh dengan pengorbanan yang luar biasa. Gereja pada masa sekarang banyak menjanjikan kalau engkau menjadi anak Tuhan engkau tidak akan mengalami kesulitan, tidak ada penyakit, tidak ada tantangan. Tetapi ayat 32 menggambarkan keadaan yang terbalik, justru pada waktu mereka percaya Tuhan, menjadi anak Tuhan, mereka banyak menderita, mereka bertahan di dalam perjuangan yang berat, menerima cercaan dan hinaan di depan orang banyak.
Ayat 33 kalau diterjemahkan lebih hurufiah, ingatlah akan masa lalu waktu engkau 'put contest' di dalam kehidupan bergerejamu, saling "membanggakan" siapa yang lebam-lebam dipukuli karena iman percayanya. Betapa bahagianya mereka pada waktu itu. Bahkan meskipun tidak semua jemaat
mengalami hal-hal itu, tetapi mereka berbagian di dalam penderitaan mereka. Intinya, mereka di masa lalu menjadi orang Kristen, mereka sudah menghadapi kesulitan dan penderitaan, namun mereka tidak pernah kecewa dan lari meninggalkan Tuhan. Bahkan setiap kali mereka datang berkumpul, mereka 'contest' dalam pengertian ada sukacita mereka berbagian di dalam penderitaan Kristus. Ada yang rumahnya dirampas, ada yang hartanya diambil, ada yang dipermalukan menjadi tontonan di depan umum, ada yang ditangkap dan dipenjara karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Itu yang menjadi kehidupan mereka pada masa yang lalu. Penulis meminta mereka untuk mengingat dan tidak lupa hal itu.
Bagian ini menjadi satu bagian yang mengajak kita untuk terus-menerus bertumbuh, didorong oleh firman Tuhan, dikuatkan oleh firman Tuhan, dihiburkan oleh firman Tuhan. Walaupun mengalami kesulitan dalam hidup, menghadapi itu firman Tuhan bilang, tekun, sabar, bertahan, berjuang di situ. Kenapa? Karena memang itu adalah suatu anugerah yang indah yang Tuhan beri kepada kita. Di satu sisi ada simpati Tuhan mengingatkan kita indah privilege itu. Tetapi di sisi lain ada warning dari Tuhan, menjadi satu balancing yang tidak pernah Tuhan abaikan. Yang kedua, selalu ingatkan baik-baik apa yang Tuhan sudah beri kepada kita, supaya ingatan itu memberikan dorongan kepada kita untuk melakukan hal yang lebih baik dan lebih indah di masa sekarang. Bertekun, bertahan, bersabar menghadapi semua yang kita alami. Jemaat yang sudah drifted away, yang mulai gelisah, takut, kuatir akan kesulitan dan penderitaan mempengaruhi hidup mereka, dunia yang mencekik dan menekan, membuat mereka kocar-kacir, jangan buang anugerah Tuhan. Jangan sampai kita ingat terus kesulitan dan kesedihan, menjadikan kita akhirnya hilang dan lari dari Tuhan. Ingat, supaya kita bangkit. Ingat, supaya kita lebih kuat. Ingat, supaya kita menjadi lebih indah di hadapan Tuhan.(kz)
0 comments:
Post a Comment