Monday, March 19, 2012

Persahabatan yang Menyelamatkan


Tuhan Yesus menginginkan hubungan yang lebih dalam dengan orang orang yang mau mengenal dan mengikuti perkataanNya. Untuk menegaskan hubungan yang lebih dekat dan lebih berkualitas itu Dia menyebut Sahabat. Sahabat berbeda dengan hamba.
Hamba adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada tuannya. Hamba merasa seratus persen dirinya sudah tertawan dan terikat hanya untuk melayani tuannya. Hamba bahkan sering disebut sebagai keset kaki. Pada kebiasaan timur tengah, seorang hamba akan duduk duduk di pintu rumah menunggu tuannya yang berpergian. Begitu tuannya tiba di depan pintu, maka sang hamba akan membuka kasut (sepatu), membasuh untuk membersihkan kakinya, melapnya sampai kering, sehingga sang tuan akan masuk ke dalam rumah dengan nyaman karena kakinya sudah bersih. Hamba tetap duduk diluar.
Sahabat tentu saja berbeda dengan hamba, sebab sahabat akan ikut masuk ke rumah, makan dan minum serta berbagi cerita. Tuhan Yesus juga berbagi cerita dengan para sahabatNya, seperti Dia katakan pada Yohanes 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat,
Apa itu sahabat? Mengapa Yesus menekankan pentingnya arti sahabat atau persahabatan? Pada ayat sebelumnya dari Yohanes : 15, kata sahabat dipakai untuk menjelaskan arti kasih. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15 : 13). Kristus mengingatkan makna kata sahabat dalam hal ini. Sahabat adalah seseorang yang kepadanya kita bersedia mengorbankan nyawa sekalipun. Benarkah?

Sahabat Pada Perjanjian Lama.
Ternyata ketika Tuhan Yesus mengutip dan memakai kata sahabat, maka ada kisah panjang dan sangat mendalam tentang persahabatan di Jaman Perjanjian Lama. Kiranya dari sinilah Tuhan Yesus menempatkan diriNya sebagai sahabat. Di perjanjian lama memang dijelaskan bahwa ketika dua orang sudah berjanji menjadi sahabat dan sering dilakukan dengan sumpah, maka janji itu akan mengikat selama lamanya.
1. Perjanjian persahabatan antara Abraham dengan Melkisedek
Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan k karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
2. Sumpah Persahabatan Yosua dengan penduduk Gibeon
Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka.
Begitu kuatnya ikatakan persahabatan itu, Sehingga apapun dilakukan untuk melindungi sahabatnya. Bahkan tidak jarang, seorang sahabat bersedia berperang sampai mati untuk melindungi sahabatnya. Jadi ketika Yesus berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih sahabat yang rela mengorbankan nyawaNya, Dia mereferensi kepada perjalanan Bangsa Yahudi. Sahabat mempunyai makna transendental.
Ketika Yosua berperang kepada Lima Raja ntuk melindungi penduduk yang sudah dijanjikan sebagai sahabat yaitu Gibeon, maka Tuhan menolong Yosua sehingga bisa memenangkan pertempuran. Pertolongan Tuhan kepada Yosua, sampai kepada sahabatnya Bangsa Gibeon. Meskipun sebenarnya Bangsa Gibeon menipu Yosua untuk mendapatkan sumpah persahabatannya. Jadi manusia bisa diselamatkan oleh persahabatannya. Persahabatan menimbulkan keselamatan.
Bisakah Persahabatan Bubar ?
Tentu bisa saja terjadi. Sebenarnya ikatakan persahabatan itu kan hanya janji atau sumpah. Sehingga banyak yang sudah bersahabat akhirnya bubar juga. Banyak yang sudah menikahpun akhirnya bercerai juga.
Ayub sendiri mengatakan demikian :
Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis,
Juga Pemazmur :
Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.
Dalam dunia modern ini pun kita selalu lihat dan dengar bubarnya persahabatan. Apa lagi dalam politik atau kehidupan para selebriti. Bahkan gereja pun mengalami perpecahan persahabatan. 


Mempertahankan Persahabatan.
Tuhan Yesus sendiripun memberikan syarat terhadap persahabatanNy. Dituliskan dalam  Yohanes 15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Tuhan Yesus meminta kepada sahabatnya sebuah komitmen untuk melakukan apa yang Dia perintahkan. Persahabatan memang membutuhkan komitmen. Komitmen untuk mempertahankan persahabatan itu. Komitmen untuk tetap berbagi dan saling  menerima dari seluruh potensi yang dimiliki seorang manusia.
Persahabatan juga memerlukan kepercayaan, sebab persahabatan yang tulus dan mendalam lahir dari keinginan menerima apapun adanya keberadaan sahabatnya. Persahabatan diperlukan tidak hanya sebatas pencapaian cita cita, apalagi cita cita politik.
Mempertahankan persahabatan dilakukan dengan berkomunikasi terus terang atau terbuka namun asertif. Berani mengatakan apa adanya, baik yang buruk sekalipun sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan persahabatan itu sendiri.
Persahabatan yang cerdas dan berkualitas adalah persahaban yang dilakukan melalui kombinasi,  Inteligent Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient.
Bahkan sebenarnya persahabatan lebih dari itu, sebab persahabatan sejatinya dijalin untuk merespon kehidupan menuju kehidupan berikutnya. Dalam hal ini, saya melihat bahwa untuk menciptakan Indonesia baru para pemimpin Bangsa seyogianya bersahabat satu dengan yang lain. Sebab dalam Negara yang sangat berbeda dan plural kita akan diselamatkan karena persahabatan kita.

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More