Tuesday, March 27, 2012

Persepuluhan


Istilah persepuluhan di dalam bahasa Iberani ialah “maaser” yang berasal dari kata Aram “ascher” = kekayaan. Hal ini menunjukkan bahwa kita telah menerima kekayaan dari “sumber” kekayaan itu sendiri, yaitu Allah. Allah telah memberikan kita 100 % sesgala sesuatu yang ada pada kita dan kita diminta mengembalikan kepadaNya hanya 10 %.cara pengembaliannya inilah yang kita sebut masalah theologia persepuluhan.

Kalau kita memeriksa Alkitab dan Sejarah Gereja mengenai persepuluhan kita melihat beberapa cara yang berbeda-beda tapi tokh tidak bertentangan :


1. Abraham memberikan sepersepuluh dari hartanya kepada Melkisedek, tanpa ada peraturan tertentu untuk itu ( 1 Musa 14 : 20). Pemberian Abraham menyatakan pengakuan terhadap Melkisedek dan mengaku dirinya selaku bawahannya. Hal ini diberitahukan kembali di dalam Ibrani 7. Melkisedek adalah pracontoh Kristus ! Yang dapat diartikan bahwa keturunan Abraham - di dalam iman - sudah sepantasnya menuruti contoh yang dilakukan oleh Abraham memberikan persepuluhan kepada Kristus, sebagai suatu kenyataan pengakuan kita terhadap kuasa Kristus. Yakub juga menjanjikan untuk mermberikan sepersepuluh kepada Tuhan dari apa yang dia peroleh dari Tuhan sendiri. Inilah janji Yakub sewaktu dia berada di Bethel. Pada waktu itu belum ada peraturan mengenai persepuluhan.


2. Tetapi kemudian Tuhan telah mengaturkan agar setiap persepuluhan diserahkan kepada Tuhan. Inilah perintah yang disampaikan oleh Musa kepada orang Israel.


Persepuluhan itu adalah sebagain dari persembahan orang Israel, umat Allah kepada Tuhan. Persepuluhan terdiri dari hasil bumi seperti gandum, anggur dan buah-buahan. Hasil hewan : lembu, sapi, kambing, domba. Mengenai hewan diatur seperti berikut : Setiap lembu atau domba yang lewat dari bawah tongkat gembala dihitung, setiap yang kesepuluh harus menjadi persembahan kudus bagi Tuhan. Tidak boleh ditukar-tukar. Sejak peraturan Sinai maka persepuluhan telah menjadi salah satu dari Hukuman Allah (3 Musa 27:31-34).


3. Orang Lewi karena jabatannya adalah penerima persepuluhan dari umat Allah (4 Musa 18,21). Mereka bukan menerima dari orang-orang Israel secara langsung. Tetapi mereka menerimanya dari tangan Tuhan, dimana Tuhan sendiri berkata : “…..sesungguhnya Aku berikan kepada mereka segala persembahan persepuluhan” (ayat 21 dan bd. Ayat 24, Nehemia 10:37 dst).


4. Mengenai tempatnya pun ada ditentukan dan jika tempat itu terlalu jauh sehingga sulit dalam pengadaan pengangkutan persepuluhan dapat diuangkan (5 Musa 14:24-25).


5. Sekali tiga tahun persembahan persepuluhan itu diberikan langsung kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan janda (5 Musa 14:28-29).


6. Pernah terjadi bahwa orang Yehuda tidak menghiraukan kewajibannya dalam memberikan persembahan persepuluhan, sehingga orang Lewi terpaksa meninggalkan tugasnya dan pergi ke ladang. Untunglah setelah ada nasihat dari Nehemia sehingga persembahan persepuluhan terlaksana kembali (Neh.13:10-12).


7. Di dalam Perjanjian Lama juga diberitakan bahwa persepuluhan diberikan kepada pihak penguasa atau Raja demi kepentingan pemerintahan (1 Sam.8:15-17).


8. Di dalam Perjanjian Baru masih ada terdapat bukti-bukti bahwa praktek pemberian persepuluhan itu masih berlangsung.

Menurut Luk.18:12 persepuluhan itu diambil dari segala penghasilan berarti bukan hanya dari hasil ternak dan pertanian. Yesus menghardik ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, karena mereka munafik di dalam pemberian persepuluhan itu. Persepuluhan dari selasih, adas dan jintan tetapi tidak melakukan keadilan dan belas kasihan serta kesetiaan (Mat. 23:23).

Inilah sebagai kunci untuk mengertikan “persepuluhan” itu. Pemberian persepuluhan tidak terpisahkan dari pelaksanaan hukum tentang keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Tuhan Yesus tidak pernah melarang hukum tentang persepuluhan itu tetapi Dia melarang praktek yang munafik. Apakah ahli Taurat dan orang-orang Farisi hanya memberikan persepuluhan dari hasil tanah yang sangat murah dan tidak memberikan persepuluhan dari hewan yang lebih mahal itu ?


9. Di dalam kesusasteraan Judaisme terutama di dalam Buku Jubileum 13:25 ff secara tegas ditandaskan tentang pelaksanaan pemberian persepuluhan. Dalam ayat 26 dapat kita baca :


“Dan hukum ini tidak mempunyai limit waktu; malah selalu mengatur generasi-generasi agar mereka memberikan kepada Tuhan persepuluhan dari segala-galanya, dari benih, dan anggur, dari minyak, dari kambing dan domba”.


Dari sini dapat kita simpulkan bahwa “Persepuluhan itu berlaku sebagai aturan yang tetap.


10. Di dalam sejarah gereja tidak berapa banyak terdengar tentang hal persepuluhan.

Tertullianus pada akhir abad kelima menjelaskan bahwa persepuluhan itu adalah dilaksanakan secara sukarela tetapi kemujdian menjadi kewajiban bagi setiap orang Kristen.
Synode Von Macon, Prancis yang dilaksanakan pada tahun 585 memutuskan tentang persepuluhan sebagai berikut :
“Hukum ilahi memerintahkan semua bangsa memberikan persepuluhan dari buah-buah (penghasilan) mereka ketempat suci”. Gereja abad ke-enam mengingatkan kembali umatnya untuk melaksanakan persembahan persepuluhan.
Di Perancis telah diakui hak Gereja secara hukum atas persepuluhan. Pada zaman Reformasi pun persepuluhan tidak digoyang oleh pembaharuan. Martin Luther sendiri mengakui bahwa hukum tentang persepuluhan itu adalah suatu hukum yang benar-benar indah ditinjau dari segi pergerakannya, dimana dia berkata : “Karena kalau banyak tumbuh di ladang, saya berikan banyak, kalau sedikit, saya berikan sedikit”.
11. Di dalam praktek sehari-hari apa yang disebut persepuluhan bukan dihitung secata Matematika. Dan bukan itu yang terpenting dalam theologia persepuluhan. Tetapi kita harus jujur. Kalau sekiranya penghasilan kita ada sekitar 100 karung padi dan kita memberikan persepuluhan hanya 1 kaleng, tentu kitalah yang membohongi diri sendiri.
12. Bagaimana kesimpulan kita dewasa ini tentang persepuluhan? Walaupun tidak ditentukan sebagai suatu peraturan, tetapi tidak ada satu ayatpun yang telah pernah membatalkan persembahan persepuluhan. Artinya kita seharusnya menjalankannya, tetapi bukan sebagai tuntutan Taurat. Rasul Paulus berkata di dalam 1 Kor. 16 : 2 : “Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kami masing-masing sesuai dengan apa yang kamu peroleh menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu diadakan, kalau aku datang”.
Di sini tidak disebut persepuluhan, tetapi ditentukan suatu hari di dalam satu minggu.
Pelaksanaan pemberian harus sepadan dengan kerelaan dan berdasarkan yang ada pada seseorang (2 Kor. 8 : 11). Bahkan Jemaat itu bukan hanya memberikan dari harta bendanya tetapi memberikan diri mereka (2 Kor. 8 :5).
Tuhan Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukcita menurut kerelaan hatinya.
Semua pemberian termasuk pemberian persepuluhan adalah sekaligus seperti menabut di ladang Tuhan, di mana Tuhan sendiri yang menyediakan benih bagi penabut dan melipat gandakannya. Dengan ketentuan : “Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga” (2 Kor. 9:6)
Di dalam pelaksanaan pemberian persepuluhan itu Tuhan menilai motif dari setiap pemberian ! Apakah kita jujur dan setia atau apakah kita munafik.
Mungkin kita telah berjanji untuk memberikan persepuluhan, tetapi jika sekiranya penghasilan dari sumber yang sama itu melimpah ruah, apakah kita masih bersedia memberikannya dengan penuh sukacita? Atau apakah jumlah itu sudah terlalu banyak sehingga perlu dikurangi?
Persepuluhan dapat membantu kita untuk menyerahkan persembahan kita yang sekaligus berfungsi sebagai benih ditabur. Setiap “penabur benih” di dalam kerajaan Allah pasti membawa berkah panen.
Janganlah kita menipu Allah di dalam persembahan persepuluhan dan persembahan khusus, untuk itu ada baiknya jika kita merenungkan Maleaki 3 : 10 : “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumahKu dan ujilah Aku, Firman Tuhan semesta Alam, apakah Aku tidak membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan”. Tuhan sendiri mengatakan dalam hal ini “ujilah Aku!” Silahkan, uji Tuhan! Tidak salah kalau kita mengujiNya! Pasti Tuhan masih membuat tanda mujizat dalam hal ini.
Apakah jumlah 10% untuk persepuluhan terlalu besar bagi kita untuk setiap penghasilan? Di dalam dan bersama iman tentu tidak, tetapi secara terpaksa sudah barang tentu terlalu besar. Baiklah kita melaksanakannya bukan berdasarkan peraturan tok atau paksaan tetapi melulu berdasarkan Firman Tuhan dan sebagai persembahan syukur kepada Tuhan dengan sukacita.

Monday, March 19, 2012

Persahabatan yang Menyelamatkan


Tuhan Yesus menginginkan hubungan yang lebih dalam dengan orang orang yang mau mengenal dan mengikuti perkataanNya. Untuk menegaskan hubungan yang lebih dekat dan lebih berkualitas itu Dia menyebut Sahabat. Sahabat berbeda dengan hamba.
Hamba adalah orang yang menyerahkan dirinya kepada tuannya. Hamba merasa seratus persen dirinya sudah tertawan dan terikat hanya untuk melayani tuannya. Hamba bahkan sering disebut sebagai keset kaki. Pada kebiasaan timur tengah, seorang hamba akan duduk duduk di pintu rumah menunggu tuannya yang berpergian. Begitu tuannya tiba di depan pintu, maka sang hamba akan membuka kasut (sepatu), membasuh untuk membersihkan kakinya, melapnya sampai kering, sehingga sang tuan akan masuk ke dalam rumah dengan nyaman karena kakinya sudah bersih. Hamba tetap duduk diluar.
Sahabat tentu saja berbeda dengan hamba, sebab sahabat akan ikut masuk ke rumah, makan dan minum serta berbagi cerita. Tuhan Yesus juga berbagi cerita dengan para sahabatNya, seperti Dia katakan pada Yohanes 15:15 Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat,
Apa itu sahabat? Mengapa Yesus menekankan pentingnya arti sahabat atau persahabatan? Pada ayat sebelumnya dari Yohanes : 15, kata sahabat dipakai untuk menjelaskan arti kasih. Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya (Yoh 15 : 13). Kristus mengingatkan makna kata sahabat dalam hal ini. Sahabat adalah seseorang yang kepadanya kita bersedia mengorbankan nyawa sekalipun. Benarkah?

Sahabat Pada Perjanjian Lama.
Ternyata ketika Tuhan Yesus mengutip dan memakai kata sahabat, maka ada kisah panjang dan sangat mendalam tentang persahabatan di Jaman Perjanjian Lama. Kiranya dari sinilah Tuhan Yesus menempatkan diriNya sebagai sahabat. Di perjanjian lama memang dijelaskan bahwa ketika dua orang sudah berjanji menjadi sahabat dan sering dilakukan dengan sumpah, maka janji itu akan mengikat selama lamanya.
1. Perjanjian persahabatan antara Abraham dengan Melkisedek
Oleh sebab itu, bersumpahlah kepadaku di sini demi Allah, bahwa engkau tidak akan berlaku curang kepadaku, atau kepada anak-anakku, atau kepada cucu cicitku; sesuai dengan persahabatan yang kulakukan kepadamu, demikianlah harus engkau berlaku kepadaku dan k karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.
2. Sumpah Persahabatan Yosua dengan penduduk Gibeon
Maka Yosua mengadakan persahabatan dengan mereka dan mengikat perjanjian dengan mereka, bahwa ia akan membiarkan mereka hidup; dan para pemimpin umat itu bersumpah kepada mereka.
Begitu kuatnya ikatakan persahabatan itu, Sehingga apapun dilakukan untuk melindungi sahabatnya. Bahkan tidak jarang, seorang sahabat bersedia berperang sampai mati untuk melindungi sahabatnya. Jadi ketika Yesus berkata bahwa tidak ada kasih yang lebih besar selain kasih sahabat yang rela mengorbankan nyawaNya, Dia mereferensi kepada perjalanan Bangsa Yahudi. Sahabat mempunyai makna transendental.
Ketika Yosua berperang kepada Lima Raja ntuk melindungi penduduk yang sudah dijanjikan sebagai sahabat yaitu Gibeon, maka Tuhan menolong Yosua sehingga bisa memenangkan pertempuran. Pertolongan Tuhan kepada Yosua, sampai kepada sahabatnya Bangsa Gibeon. Meskipun sebenarnya Bangsa Gibeon menipu Yosua untuk mendapatkan sumpah persahabatannya. Jadi manusia bisa diselamatkan oleh persahabatannya. Persahabatan menimbulkan keselamatan.
Bisakah Persahabatan Bubar ?
Tentu bisa saja terjadi. Sebenarnya ikatakan persahabatan itu kan hanya janji atau sumpah. Sehingga banyak yang sudah bersahabat akhirnya bubar juga. Banyak yang sudah menikahpun akhirnya bercerai juga.
Ayub sendiri mengatakan demikian :
Sekalipun aku dicemoohkan oleh sahabat-sahabatku, namun ke arah Allah mataku menengadah sambil menangis,
Juga Pemazmur :
Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku.
Dalam dunia modern ini pun kita selalu lihat dan dengar bubarnya persahabatan. Apa lagi dalam politik atau kehidupan para selebriti. Bahkan gereja pun mengalami perpecahan persahabatan. 


Mempertahankan Persahabatan.
Tuhan Yesus sendiripun memberikan syarat terhadap persahabatanNy. Dituliskan dalam  Yohanes 15:14 Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Tuhan Yesus meminta kepada sahabatnya sebuah komitmen untuk melakukan apa yang Dia perintahkan. Persahabatan memang membutuhkan komitmen. Komitmen untuk mempertahankan persahabatan itu. Komitmen untuk tetap berbagi dan saling  menerima dari seluruh potensi yang dimiliki seorang manusia.
Persahabatan juga memerlukan kepercayaan, sebab persahabatan yang tulus dan mendalam lahir dari keinginan menerima apapun adanya keberadaan sahabatnya. Persahabatan diperlukan tidak hanya sebatas pencapaian cita cita, apalagi cita cita politik.
Mempertahankan persahabatan dilakukan dengan berkomunikasi terus terang atau terbuka namun asertif. Berani mengatakan apa adanya, baik yang buruk sekalipun sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan persahabatan itu sendiri.
Persahabatan yang cerdas dan berkualitas adalah persahaban yang dilakukan melalui kombinasi,  Inteligent Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient.
Bahkan sebenarnya persahabatan lebih dari itu, sebab persahabatan sejatinya dijalin untuk merespon kehidupan menuju kehidupan berikutnya. Dalam hal ini, saya melihat bahwa untuk menciptakan Indonesia baru para pemimpin Bangsa seyogianya bersahabat satu dengan yang lain. Sebab dalam Negara yang sangat berbeda dan plural kita akan diselamatkan karena persahabatan kita.

Wednesday, March 14, 2012

Garam dan Terang Dunia

Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono
6 Februari 2011

Yes. 58:1-9a, (9b-12); Mzm. 112:1-9 (10); I Kor. 2:1-12, (13-16); Mat. 5:13-20

“Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi
gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas
 gunung tidak mungkin tersembunyi” (Mat. 5:13-14).
 Garam dan terang merupakan analogi yang konkret, sederhana namun sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Nilai kegunaan garam dan terang tidak perlu diiklankan, namun semua orang mengetahui manfaatnya. Garam dapat dipakai untuk mengawetkan ikan, memberi cita-rasa dalam makanan, menyuburkan tanaman, dan sebagainya. Kehidupan kita sehari-hari juga sangat membutuhkan terang. Tanpa terang, kita tidak dapat melihat dan melakukan aktivitas. Makna garam dan terang merupakan analogi yang dipakai oleh Tuhan Yesus untuk menjelaskan suatu nilai dan manfaat hidup yang begitu penting. Kehidupan yang tidak dapat memberi nilai dan manfaat merupakan kehidupan yang sia-sia dan tak layak dijalani. Sebab apa artinya bila hidup kita ternyata membawa kerusakan, kesedihan dan penderitaan bagi sesama? Namun yang mengejutkan, ternyata Tuhan Yesus tidak berkata: “Jadilah garam dan terang dunia”, tetapi: “Kamu adalah garam dan terang dunia”. Kedua kalimat tersebut tampaknya mirip, tetapi memiliki pengertian yang sangat berbeda. Pengertian “Jadilah garam dan terang dunia” menunjuk panggilan agar kita berjuang untuk “menjadi” garam dan terang bagi dunia ini. Tetapi pengertian “Kamu adalah garam dan terang dunia” lebih menunjuk kepada suatu identitas diri dan karakter. Setiap umat percaya memiliki identitas diri dan karakter sebagai garam dan terang bagi dunia ini. Artinya setiap identitas dan karakter umat yang rielnya tidak memiliki “karakter dan fungsi” sebagai garam dan terang, layaklah ia dibuang (Mat. 5:13). Sungguh suatu pengajaran yang mengejutkan dan tanpa kompromi!

                  Pengajaran Tuhan Yesus tersebut menempatkan realisme diri manusia secara positif. Namun juga mengungkapkan suatu idealisme. Realisme kekinian umat yang dinyatakan dalam identitas dan karakternya haruslah ditandai oleh fungsinya yang konstruktif, dan pada pihak lain memiliki suatu idealisme yang harus diperjuangkan tanpa kompromi. Karena itu realisme kekinian setiap umat dengan identitas diri dan karakternya tidak boleh bersifat pasif, tetapi dinamis dan progresif. Identitas diri dan karakter umat sebagai garam dan terang harus melampaui standar penilaian dunia. Tepatnya hidup kerohanian umat percaya tidak boleh di bawah  standar nilai yang berlaku umum dalam masyarakat. Karena itu Tuhan Yesus berkata: “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Mat. 5:20). Kerohanian ahli Taurat dan orang Farisi jelas dianggap lebih tinggi dalam masyarakat Israel waktu itu. Tetapi ternyata standar nilai dan karakter dari Kristus menuntut suatu spiritualitas yang lebih tinggi dari pada pola spiritualitas para ahli Taurat dan orang Farisi. Karena Tuhan Yesus menghendaki suatu “kesempurnaan” hidup rohani: “Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna" (Mat. 5:48). Dasar idealisme pengajaran Tuhan Yesus adalah: “sama seperti Allah adalah sempurna”. Idealisme tersebut tentunya tidak bermaksud menyatakan bahwa manusia mampu sempurna seperti Allah yang adalah sempurna. Sebab manusia telah jatuh ke dalam kuasa dosa. Namun sebagai manusia berdosa, kita juga harus memiliki suatu idealisme rohani yang tinggi.

                Setiap umat berdosa, tetapi situasi keberdosaan kita tersebut tidak boleh mendorong kita hanya melihat noda-noda kotoran dosa-dosa. Dengan iman, kita juga harus mampu memandang ke atas untuk menyambut anugerah keselamatan Allah. Dengan realisme diri kita yang berdosa itu, kita disadarkan bahwa tidak ada seorangpun yang mampu mengerjakan keselamatan bagi dirinya sendiri. Sebab realisme diri kita yang lemah dan berdosa akan diubah Allah menjadi suatu realisme diri yang “sempurna” ketika kita bersedia membuka diri terhadap realisme penebusan Kristus. Hakikat Allah adalah sempurna.  Kristus yang adalah hakikat Firman Allah juga sempurna. Namun dalam inkarnasiNya, Kristus menjadi bagian yang utuh dan eksistensial dengan kehidupan umat manusia. Karena itu melalui hidup dan karya Kristus, setiap umat memiliki harapan dimampukan untuk menyerupai Kristus yang adalah Allah. Di Mat. 5:17, Tuhan Yesus berkata: "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya”. Tidak ada seorangpun yang mampu memenuhi tuntutan hukum Taurat dengan kekuatan dan kebajikannya sendiri. Karena itu Kristus datang untuk menggenapi seluruh tuntutan hukum Taurat tersebut. Dengan demikian menjadi jelas, melalui anugerah keselamatan Kristus, kita dimampukan untuk menggenapi tuntutan hukum Taurat. Jadi seharusnya ibadah, puasa atau kewajiban agama dilakukan karena kuasa kasih Kristus. Makna puasa dihayati sebagai suatu media mengkomunikasikan kasih Allah kepada sesama.

                Di kitab nabi Yesaya, Allah menegur umat Israel yang setiap hari mencari Allah, mengenal segala firmanNya dan rutin berpuasa. Namun motivasi dan praktek keagamaan tersebut diikuti pula dengan perbuatan-perbuatan mereka yang keji kepada sesama. Mereka berpuasa, tetapi juga menganiaya orang-orang yang lemah. Itu sebabnya doa permohonan mereka tidak didengarkan Allah.  Walaupun secara ritual mereka merendahkan diri di hadapan Allah, namun Allah tidak mengindahkan mereka (Yes. 58:3-4).  Sebab yang utama bagi Allah bukanlah tindakan ibadah, tetapi bagaimana suatu ibadah memampukan umat untuk membawa keselamatan dan pembebasan  Allah terhadap sesama yang terbelenggu. Tindakan kasih kepada sesama seharusnya dinyatakan sebagai wujud dari puasa dan ibadah. Umat Israel pada waktu itu gagal memerankan diri sebagai garam dan terang dunia sebab hati mereka belum dibaharui oleh kasih Allah. Hal yang sama juga terjadi dalam kehidupan umat percaya. Yang dikehendaki oleh Kristus, bukanlah kemegahan suatu ritualitas, tetapi apakah mereka mempraktekkan kasih Allah secara megah, tak terbatas dan tanpa syarat kepada sesama di sekitarnya.

Doa:
Tuhan Yesus, Engkaulah penggenap seluruh hukum Taurat. Mampukanlah kami dengan kuasa kasihMu untuk menjadi garam dan terang dunia. Dengan demikian, kami dapat menjadi alatMu yang membebaskan dan menyelamatkan setiap orang di sekitar kami. Amin.

Friday, March 9, 2012

Warisan Tuhan

Sumber : http://www.bethanychurchsydney.org.au

Ringkasan Kotbah : Pdt. Sugandi
Tanggal : 18 May 2008


Warisan mempunyai arti yang berbeda di perjanjian lama dan perjanjian baru. Di perjanjian lama warisan sering kali di artikan tanah, harta, kuasa, dan sejenisnya. Tetapi di perjanjian baru warisan indentik dengan suatu hubungan ayah dan anak.
Di perumpamaan kebun anggur (Markus 12: 1-11), dapat kita simpulkan bahwa Tuhan Yesus adalah ahli waris tunggal, sedangkan dari Galatia 4: 6-7 Gereja (kita semua orang percaya) adalah ahli waris bersama. Sekarang pertanyaanya adalah berupa apakah warisan Tuhan itu?
1.  Kerajaan Allah (Matius 21:43, Matius 25: 34, 1Korintus 6: 9, 1 Korintus 15: 50).
Kerajaan disini bukan berarti suatu tempat, negara, atau semacam itu. Tetapi kerajaan Allah disini adalah suatu nuansa dimana Yesus adalah Raja dan kita sebagai rakyatNya. Dalam hidup kita siapakah yang menjadi raja atas hidup kita? Masih diri kita sendiri atau sudahkah kita menjadikan Yesus sebagai Raja atas hidup kita?
2.  Hidup yang kekal (Matius 19:29, Lukas 10: 25, 1 Timotius 6: 18-19).
Hidup yang kekal tidak hanya berbicara tentang lamanya jangka waktu, tetapi juga berbicara tentang kualitas hidup yang sebenarnya. Hidup yang kekal adalah kualitas kehidupan dimana kehendak Allah terjadi dalam hidup kita, yaitu hidup di bawah pimpinan Tuhan (Kerajaan Allah). Kapankah kita memperoleh warisan hidup yang kekal ini? Sekarang juga pada saat kita percaya dan taat pada Tuhan (Yohanes 3: 16, 36).
Ada banyak lagi warisan-warisan Tuhan yang lain, tetapi point-point diatas adalah dua dari yang terutama. Kita sudah mendapatkan sebagian dari warisan-warisan Tuhan, belum semuanya. Tetapi Tuhan sudah memberikan jaminanNya kepada kita, yaitu Roh Kudus (Efesus 1: 14, 2 Korintus 1: 21-22, 2 Korintus 5: 5).
Tuhan Yesus memberkati.

Kontak Tuhan

Sumber : http://saatteduh.wordpress.com

Puji TUHAN, anda telah dapat menelepon-Nya setiap saat!
Anda hanya perlu untuk memanggil-Nya sekali dan TUHAN mendengar anda.
Karena YESUS, anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk.
TUHAN menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.
Ketika anda memanggil dan TUHAN akan menjawab.
Anda akan menangis minta tolong dan DIA akan berkata, “Ini AKU”.

Ketika anda memanggil, gunakan nomor telepon darurat di bawah ini:

__________________________________________________________

PERSOALAN = NOMOR TELEPON
__________________________________________________________

Saat berduka cita = Yohanes 14
Ketika dikecewakan sesama = Mazmur 27
Jika anda ingin berbuah = Yohanes 15
Ketika anda berdosa = Mazmur 51
Ketika anda khawatir = Matius 6 : 19-34

Ketika anda dalam bahaya = Mazmur 91
Ketika TUHAN terasa jauh = Mazmur 139
Ketika iman anda perlu dikuatkan = Ibrani 11
Ketika anda merasa sendiri dan takut = Mazmur 23
Ketika hidup anda dalam kepahitan = 1 Korintus 13

Untuk rahasia kebahagiaan Paulus = Kolose 3 : 12-17
Untuk arti keKristenan = 2 Korintus 5 : 15-19
Ketika anda merasa kecewa dan ditinggalkan = Roma 8 : 31-39
Ketika anda menginginkan kedamaian dan ketenangan = Matius 11: 25-30
Ketika dunia terlihat lebih besar dari TUHAN Mazmur 90

Ketika anda ingin jaminan kekristenan Roma 8: 1-30
Ketika anda meninggalkan rumah untuk bekerja atau berpergian = Mazmur 121
Untuk penemuan / kesempatan besar = Yesaya 55
Ketika anda membutuhkan keberanian untuk suatu tugas = Yosua 1
Supaya dapat bergaul dengan baik terhadap sesama = Roma 12

Ketika anda memikirkan kekayaan = Markus 10
Saat anda mengalami depresi = Mazmur 27
Ketika anda kesulitan keuangan = Mazmur 37
Jika anda kehilangan kepercayaan terhadap orang = 1 Korintus 13
Jika orang disekitar anda tampak berlaku tidak baik = Yohanes 15

Ketika anda putus asa dengan pekerjaan = Mazmur 126
Jika anda menemukan bahwa dunia mengecil dan anda merasa besar = Mazmur 19
__________________________________________________________

Nomor nomor tersebut dapat langsung dihubungi.
Operator tidak diperlukan.
Seluruh saluran ke Surga terbuka 24 Jam sehari.
Bagikan daftar telepon ini kepada orang orang di sekeliling kita.
Mana tahu, mungkin mereka sedang membutuhkannya.
Jika diperlukan ajaklah berdoa bersama

Jika anda pengguna HP dapat juga menghubungi = 081 8 50 15 2 2 33 3

081 8 = Mazmur 81 : 8

50 15 = Mazmur 50 : 15

2 2 = Yunus 2 : 2

333 = Yeremia 33:3

Sunday, March 4, 2012

Ingatlah akan Masa Lalu


Ringkasan Khotbah GRII Sydney, 13/11/2011
Pengkhotbah: Pdt. Effendi Susanto STh.
Tema: Ingatlah akan Masa Lalu
Nats: Ibrani 10:19-39

Ibr.10:19-39 dibagi dalam 3 section yang penting, yang bagi saya merupakan satu penulisan yang begitu indah, teratur dan bahkan seimbang luar biasa di dalam pemaparannya. Section pertama ayat 19-25 bicara mengenai privilege dari Tuhan membuat kita menjadi Gereja, menjadi umat Tuhan. Dan section ini diakhiri dengan satu encouragement dan panggilan pastoral sebagai satu warning di ayat 25 "Janganlah kamu menjauhkan diri dari pertemuan ibadah seperti yang dibiasakan beberapa orang..." Berkumpul sebagai Gereja, berbakti, berdoa dan beribadah setiap minggu adalah suatu privilege, satu hak istimewa yang tidak boleh dianggap murahan dan semaunya. Hargai privilege yang sudah dibayar oleh Tuhan Yesus dengan darahNya yang mulia dan berharga itu.
Section kedua ayat 26-31, sebagai Gereja diimbangi, selain ada privilege juga ada responsibility, selain ada privilege juga ada warning. Maka penulis di sini memberikan satu warning yang serius, jangan sampai ada orang yang sudah mendapatkan anugerah tetapi dihina, dibuang, diinjak-injak di depan umum. Ini merupakan warning kepada orang yang datang ke Gereja, orang yang ada dalam komunitas Kristen. Lalu section ini ditutup dengan satu kalimat, "Ngeri benar jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup itu" (ayat 31).
Section ketiga ayat 32-39, penulis Ibrani mengatakan, "Ingatlah akan masa lalu, dari awal engkau menjadi orang Kristen, bagaimana perjalanan hidupmu..." There is a rememberance. Ada ingatan, ada memori yang harus kita ingat selalu di dalam perjalanan iman kita. Lalu section ini diakhiri dengan kalimat proklamasi yang luar biasa indah, "We are not those who are shrink back and destroyed, but we are those who are believe and alive..." (ayat 39).
Dalam Australian Open turnamen golf minggu kemarin, selain media kota Sydney ramai bicara mengenai Tiger Woods yang hadir dan bertanding, pembicaraan juga ramai berkisar mengenai insiden pada hari pertama, yaitu mengenai salah satu peserta bernama John Daly. Setelah membuat kesalahan di beberapa hole, lalu tujuh bola masuk ke air, dia walk out meninggalkan lapangan dan tidak main lagi. Tindakan ini menimbulkan kontroversi dan akhirnya PGA Australia untuk tidak lagi mengundang dia untuk mengikuti kompetisi golf yang akan dilaksanakan minggu depan di Brisbane. Saya setuju dengan keputusan ini. Turnamen major biasanya hanya mengutamakan pemain yang berada di ranking 1-120, dan baru sisanya diberikan kepada pemain yang berkisar di ranking 200-an. Untuk sampai kepada turnamen itu, mereka harus berjuang sangat keras untuk menang di berbagai pertandingan sebelumnya. Tetapi John Daly bisa ikut dalam Australian Open bukan karena dia hebat, karena fakta rankingnya merosot di 600-an. Daly tidak layak untuk main; Daly tidak punya hak untuk main; Daly tidak punya pass untuk main. John Daly datang main golf di Australian Open karena panitia mengundang dia. Ini satu hak istimewa yang diberikan karena publik Australia menyukai kehadirannya. Tetapi orang ini tidak menghargai dan tidak respek kepada turnamen. Anugerah sudah diberi, kesempatan sudah dikasih, tetapi akhirnya menjadi sesuatu yang diremehkan. Kadang-kadang orang yang terus dapat privilege seperti ini merasa dia boleh saja seenaknya melakukan sesuatu semaunya. Itu adalah sikap yang childish dan kekanak-kanakan. Kita bukan anak kecil. Bagi saya walaupun susah setengah mati berjuang, tidak bisa seenaknya ditinggal begitu. Saudara juga waktu sedang ujian sekolah, mentok coba jawab soal ujian yang sangat sulit, saudara tidak bisa main walk out begitu saja, bukan? Dimana saja dalam hidup kita, tidak bisa pakai cara seperti itu. Apalagi kalau itu adalah satu privilege, satu undangan, satu kesempatan
yang begitu berharga diberikan seperti itu, seharusnya diterima dengan syukur dan tidak boleh akhirnya diremehkan dengan cara seperti itu.
Dalam PL, tiga kali setahun orang Yahudi dari segala tempat di berbagai negara harus datang ke Bait Allah di Yerusalem untuk beribadah di sana. Itu adalah momen dan hari yang sangat berharga bagi orang Israel dalam PL, terutama hari Penebusan Dosa yang dirayakan satu kali setahun. Tidak banyak orang yang boleh masuk ke dalam ruang maha kudus di Bait Allah. Tidak sembarang imam boleh datang melayani mezbah Tuhan yang suci itu. Satu tahun sekali dipilihlah seorang imam untuk masuk ke balik tirai ruang maha kudus, untuk memercikkan darah domba di atas tabut perjanjian sebagai permohonan untuk menyucikan dosanya terlebih dahulu. Sesudah itu imam itu mengambil hisop dan memercikkan darah domba menjadi wakil dari seluruh jemaat untuk disucikan dari dosa-dosa mereka.
Orang yang hanya bisa datang tiga kali dalam setahun begitu menghargai kesempatan itu dan sangat merindukan momen-momen itu, hari dimana mereka bisa bersukacita bersekutu dengan Tuhan. Itu yang dikatakan oleh mazmur-mazmur ziarah mereka. Itulah Perjanjian yang Lama. Tetapi kita yang ada di dalam Perjanjian yang Baru, kapan saja kita datang kepada Tuhan, kita tidak perlu tunggu. Kita bisa datang menghampiriNya kapan saja. Melalui Kristus Yesus kita mendapat 'free access'; melali Yesus Kristus kita mempunyai 'free pass' untuk datang kapan saja kepada Allah yang maha kudus. Ketika kita berdoa kepadaNya, Ia mendengar seruan doa permohonan kita. Setiap minggu kita berbakti, Tuhan hadir di tengah-tengah kita. Itu sebab kesempatan yang indah dan baik ini justru menjadikan kita semakin giat dan menghargainya dengan sungguh. Memang aneh, tetapi itulah cara berpikir orang berdosa yang sesungguhnya tidak boleh ada, kita yang bisa datang setiap minggu akhirnya meremehkan kesempatan itu.
Dalam section ke dua, penulis Ibrani bicara mengenai warning yang muncul, hati-hati terhadap sikap orang yang mengaku Kristen, yang ada di dalam Gereja, yang sudah mengaku sebagai orang percaya. Memang menjadi kesulitan kita adalah kita tidak tahu siapa orang Kristen yang sejati karena tidak ada tanda eksternal yang menyertainya. Itu sebab warning ini perlu diberikan di tengah-tengah komunitas Gereja. Adanya warning tidak berarti orang yang diberi warning akan melanggar hal ini. Sebab bukan datang dari berapa kuat imanku yang menentukan saya tetap terpelihara sampai akhir atau tidak, tetapi itu berkaitan dengan soal kepada siapa kita beriman, itu yang menjadi penting. Tuhan yang telah memulai iman di dalam hidup kita, Ia juga yang memimpin iman kita sampai akhir.
Maka hari ini saya ajak saudara memperhatikan Ibr.6:4-6 sebagai warning yang sama dengan Ibr.10 ini, yaitu jangan sampai ada orang yang menghina dan menginjak-injak darah Anak Domba Allah yang sudah menebus mereka dan memurahkan kasih karuniaNya. Tindakan orang di Ibr.6:6 ini adalah "menghina Anak Allah di depan umum..." berarti ada satu 'public rejection' terhadap Tuhan Yesus padahal sebelumnya pernah ada 'public announcement' juga bahwa ia adalah orang percaya.
Siapa sesungguhnya kelompok orang yang dimaksud oleh penulis Ibrani ini? F.F. Bruce menafsirkan empat hal yang dikatakan di Ibr.6:4-6 ini sebagai aktifitas Gereja yang eksternal dan kelihatan, yaitu orang ini datang berbakti, pernah dibaptis, pernah mengikuti perjamuan kudus, pernah ambil bagian dalam pelayanan, dsb. Tetapi aktifitas-aktifitas eksternal ini tidak menjamin apakah orang itu benar-benar orang Kristen sejati, karena tidak ada orang yang tahu apa yang ada di dalam hati seseorang, apakah dia sungguh-sungguh lahir baru. Orang yang sudah tahu ini adalah obat satu-satunya yang bisa menyembuhkan dia lalu dengan sengaja menghina dan menolaknya, itulah orang yang dikategorikan sebagai orang yang murtad. Maka firman Tuhan mengatakan orang itu tidak akan dibaharui sekali lagi. 'Drifting away' itu adalah sesuatu yang kadang-kadang samar dan tidak kelihatan. Saudara dan saya
waktu berada di atas kapal memancing di tengah laut, kita tidak sadar kalau kapal kita drifting away. Kita pikir kita berada di spot yang sama karena kita lihat ke kanan dan ke kiri semua hanya air, padahal ternyata kapal itu sudah bergeser jauh. Orang yang diving juga begitu, lihat coral di bawah laut kelihatannya di situ-situ saja, tidak sadar dia sudah bergeser jauh dari spot pertama.
Itu sebab Ibr.10 memberi warning "jangan membiasakan diri..."
Hidup kita itu tidak terlepas dari struktur habit. Apa yang kita kerjakan dan lakukan setiap hari berangkat dari bagaimana kita meletakkan kebiasaan. Kebiasaan itu cuma dua macam, kebiasaan baik dan kebiasaan buruk. Pada waktu kita mau melepaskan kebiasaan buruk, itu membutuhkan kekuatan besar untuk meneguhkan dan menetapkan satu kebiasaan yang baik. Dengan memberi warning "jangan membiasakan diri..." penulis Ibrani mengingatkan kepada jemaat yang ada, seseorang yang imannya 'drift away' itu terjadi sedikit demi sedikit, tidak terlalu kelihatan. Pelan-pelan dia pergi dan terbiasa dengan kebiasaan itu. Salah satu rekan kerja rasul Paulus yang bernama Demas juga seperti itu. Alkitab hanya mencatat namanya tiga kali disebutkan (Flm.1:24, Kol.4:14, 2 Tim.4:10). Kita bisa menemukan di situ nampaknya ada keadaan drifting away yang terjadi pada diri Demas. Paulus sadar akan hal itu. Maka dalam surat Filemon ia hanya mengatakan "rekanku Demas." Kemudian dalam Kolose Paulus hanya menyebut "dari Demas" dan tidak menyebut apa-apa lagi. Seolah ada sesuatu yang terjadi pada diri Demas yang Paulus merasakannya meskipun tidak menyebutkannya. Nanti di surat 2 Timotius baru dengan terbuka Paulus mengatakan kepada Timotius "...karena Demas telah mencintai dunia ini dan meninggalkan aku..."
Kita tidak perlu kaget dan shock kepada orang-orang Kristen yang kita rasa baik di dalam Gereja tetapi akhirnya drifted away dan hilang dan meninggalkan Gereja dan tidak lagi mengaku Yesus Kristus sebagai Tuhannya. Mereka yang menjadi hamba Tuhan juga seperti Demas, yang pernah sama-sama melayani dengan Paulus, bisa drifted away dan meninggalkan Tuhan. Berangkat darimana sebenarnya persoalan itu sampai seseorang bisa mengalami penyimpangan? Yaitu waktu engkau mulai "terbiasa" dengan kebiasaan-kebiasaan yang kita pikir 'biasa' tetapi sebenarnya 'berbisa.'
Lalu bagaimana saya tahu bahwa imanku teguh? Bagaimana saya tahu bahwa keselamatanku tidak akan hilang? Ibr.10:19 mengatakan pengharapan kita seperti sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita. Sebab kenapa? Sebab sauh atau jangkar itu dilabuhkan kepada Kristus yang adalah Imam Besar kita yang sudah masuk terlebih dahulu ke belakang tabir itu. Itu adalah suatu kalimat figuratif yang memberi kita gambaran hidup iman kita seperti sebuah kapal, pada waktu jangkar itu sudah kita lemparkan ke tengah laut, ia akan tersangkut pada batu di dasar laut. Wajar kalau sesekali kita akan bertanya, apakah jangkar itu masih kuat tersangkut di bawah sana atau tidak. Di atas permukaan air kapal iman kita bisa dihempas oleh ombak dan badai, diombang-ambing angin kencang, dst. Itulah perjalanan hidup kita yang memiliki iman yang saya sebut sebagai "subjective faith." Iman kita itu bisa berfluktuasi, sehingga Alkitab mengatakan ada orang yang imannya kuat, ada orang yang imannya lemah; ada orang yang imannya mungkin tersandung, ada orang yang imannya kecewa, dsb. Itulah iman yang subyektif, yang fluktuasi, bisa naik dan turun, bisa kuat dan lemah, mengalami ombang-ambing karena kesulitan hidup, karena badai, karena tantangan, karena kekecewaan. Semua itu bisa terjadi dalam hidup kita. Subjective faith bisa membuat kita menjadi ragu, mungkinkah keselamatanku bisa hilang, tetapi tidak berarti secara faktual dan realita tidak ada iman di dalam diri orang itu. Subjective faith bisa membuat orang berpikir jangkarnya tidak bertaut dengan Batu Karang, tetapi tidak berarti secara aktual jangkarnya tidak bertaut. Itu bukan bergantung kepada subjective faith kita yang gampang berubah, tetapi karena saya tahu saya memiliki Objective Faith, yaitu iman yang bertaut kepada Batu Karang yang kokoh itu. Ketika kita percaya dengan sungguh kepada Kristus, Ia menjadi Imam Besar kita untuk selama-lamanya. Ia sudah mati bagi dosa-dosa kita. Kita boleh berkata kepadaNya, Tuhan, Engkau yang telah memulai iman di
dalam diriku, Engkau juga yang akan memelihara dan memimpinnya sampai akhir. Di tengah perjalanan itu tetap firman Tuhan mengingatkan dan memberi warning kepada kita. Pertama, jangan drifted away. Kedua, jangan menjadi orang yang willfully sinning. Maka kalau Tuhan datang mengingatkan kita hari demi hari, teguran firman Tuhan harus menjadi teguran yang mendatangkan kerendahan hati, kita bertobat hari demi hari. Pada waktu kita tahu kita telah berbuat salah, mari dengan hati yang hancur kita berbalik kepada Tuhan, kita memperbaiki diri di hadapan Tuhan. Di situlah kita tahu bahwa kita adalah anak-anak Tuhan dan milik Tuhan selama-lamanya. Tetapi mereka yang sudah salah, dengan sengaja terus melakukan kesalahan, menyembunyikan kesalahan dan walaupun terus-menerus ditegur tetapi tidak bertobat dan mengalami perubahan, satu kali kelak orang itu murtad, pergi meninggalkan Tuhan, kita tidak heran, sebab dia tidak menghargai Kristus sudah menebus dosanya. Maka saya tidak tahu apakah engkau orang Kristen sejatikah, karena memang tidak ada tanda eksternal menyertai imanmu, biar peringatan dan warning yang kita terima hari ini terus mengoreksi iman kita.
Yang kedua, peringatan yang muncul di bagian ketiga ini adalah jangan kita lupa apa yang pernah terjadi dalam hidup kita di masa lampau. Ibr.10:30 "Rememberance your old days." Ingatlah akan masa lalumu. Normal kita hanya mau mengingat hal-hal yang baik dan memori yang indah dan manis di masa lalu dan mengubur dalam-dalam memori yang tidak menyenangkan. Namun Penulis Ibrani mengatakan kita untuk mengingat masa lalu yang susah dan sulit.
Saya ajak saudara membandingkan bagian ini dengan kalimat Paulus dalam Fil.3:13, Paulus mengatakan, "Aku melupakan apa yang telah di belakangku..." Firman Tuhan yang satu mengatakan, ingat masa lalumu. Firman Tuhan yang satu mengatakan, lupakan masa lalumu. Yang sudah lewat, lewatlah. Yang sudah pergi, pergilah. Melupakan apa yang sudah di belakang, apa yang sudah lewat. Tetapi Ibrani mengatakan, jangan lupa apa yang sudah lewat. Bagaimana mensinkronkan dua ayat ini?
Lupakan hal-hal yang gagal, yang justru menghambat kita untuk maju; tetapi ingatlah hal-hal yang gagal yang terjadi untuk mengintrospeksi diri kita menjadi lebih baik sekarang dan yang akan datang. Lupakan hal-hal yang buruk menimpa dirimu, yang hanya membuat engkau menjadi pahit dan sakit hati; tetapi ingatlah hal-hal yang buruk menimpa supaya kita bisa bersyukur kepada Tuhan kita boleh ada sekarang itu tidak terlepas dari tangan Tuhan yang membentuk di masa kita sedih dan menangis. Lupakan juga hal-hal sukses di masa lalu, yang melemahkan engkau untuk maju dan membius engkau terus puas diri dan takabur; tetapi ingatlah akan hal-hal yang sukses supaya kita tahu bersyukur menghargai anugerah Tuhan di masa sekarang dan yang akan datang. Jadi bukan soal yang gagal harus dibuang; bukan soal yang buruk harus dilupakan; bukan soal yang sukses harus diingat. Bukan itu semua yang menentukan kita harus lupakan atau ingat-ingat. Tetapi yang penting adalah pada waktu kita mengingat dan tidak melupakan apa yang sudah ada, kita tahu untuk apa kita mengingatnya.
Ingatlah akan masa yang lalu. Apa yang diminta oleh penulis Ibrani untuk kita ingat-ingat? Karena perjalanan hidup mereka menjadi anak Tuhan adalah suatu perjalanan yang penuh dengan pengorbanan yang luar biasa. Gereja pada masa sekarang banyak menjanjikan kalau engkau menjadi anak Tuhan engkau tidak akan mengalami kesulitan, tidak ada penyakit, tidak ada tantangan. Tetapi ayat 32 menggambarkan keadaan yang terbalik, justru pada waktu mereka percaya Tuhan, menjadi anak Tuhan, mereka banyak menderita, mereka bertahan di dalam perjuangan yang berat, menerima cercaan dan hinaan di depan orang banyak.
Ayat 33 kalau diterjemahkan lebih hurufiah, ingatlah akan masa lalu waktu engkau 'put contest' di dalam kehidupan bergerejamu, saling "membanggakan" siapa yang lebam-lebam dipukuli karena iman percayanya. Betapa bahagianya mereka pada waktu itu. Bahkan meskipun tidak semua jemaat
mengalami hal-hal itu, tetapi mereka berbagian di dalam penderitaan mereka. Intinya, mereka di masa lalu menjadi orang Kristen, mereka sudah menghadapi kesulitan dan penderitaan, namun mereka tidak pernah kecewa dan lari meninggalkan Tuhan. Bahkan setiap kali mereka datang berkumpul, mereka 'contest' dalam pengertian ada sukacita mereka berbagian di dalam penderitaan Kristus. Ada yang rumahnya dirampas, ada yang hartanya diambil, ada yang dipermalukan menjadi tontonan di depan umum, ada yang ditangkap dan dipenjara karena iman mereka kepada Tuhan Yesus. Itu yang menjadi kehidupan mereka pada masa yang lalu. Penulis meminta mereka untuk mengingat dan tidak lupa hal itu.
Bagian ini menjadi satu bagian yang mengajak kita untuk terus-menerus bertumbuh, didorong oleh firman Tuhan, dikuatkan oleh firman Tuhan, dihiburkan oleh firman Tuhan. Walaupun mengalami kesulitan dalam hidup, menghadapi itu firman Tuhan bilang, tekun, sabar, bertahan, berjuang di situ. Kenapa? Karena memang itu adalah suatu anugerah yang indah yang Tuhan beri kepada kita. Di satu sisi ada simpati Tuhan mengingatkan kita indah privilege itu. Tetapi di sisi lain ada warning dari Tuhan, menjadi satu balancing yang tidak pernah Tuhan abaikan. Yang kedua, selalu ingatkan baik-baik apa yang Tuhan sudah beri kepada kita, supaya ingatan itu memberikan dorongan kepada kita untuk melakukan hal yang lebih baik dan lebih indah di masa sekarang. Bertekun, bertahan, bersabar menghadapi semua yang kita alami. Jemaat yang sudah drifted away, yang mulai gelisah, takut, kuatir akan kesulitan dan penderitaan mempengaruhi hidup mereka, dunia yang mencekik dan menekan, membuat mereka kocar-kacir, jangan buang anugerah Tuhan. Jangan sampai kita ingat terus kesulitan dan kesedihan, menjadikan kita akhirnya hilang dan lari dari Tuhan. Ingat, supaya kita bangkit. Ingat, supaya kita lebih kuat. Ingat, supaya kita menjadi lebih indah di hadapan Tuhan.(kz)

Kelumpuhan Karir


Bacaan: Lukas 5:37-39
Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?-


Kita merasa jenuh dengan pekerjaan. Kita bermalas-malasan pergi ke tempat kerja. Selalu saja ada alasan untuk ijin atau mengambil cuti. Kita tidak memiliki antusias dalam bekerja. Kinerja kita tidak meningkat tapi menurun. Grafik kita statis dan bukan dinamis. Kreatifitas kita mati dan miskin inovasi. Bisa jadi semua tanda-tanda di atas menunjukkan bahwa kita sedang mengalami gejala Career Paralyse ( kelumpuhan karir). Kalau tidak segera diatasi, bisa-bisa karir kita akan mandeg atau bahkan tamat! Bagaimana cara mengatasinya?
Satu, tentukan target baru. Banyak orang mengalami kelumpuhan karir karena ia sudah kehilangan target. Bisa karena target yang ingin ia capai sangat kabur tapi bisa juga karena targetnya sudah terpenuhi . Jika target sudah sangat kabur, ada baiknya kita menata ulang lagi target macam apa yang ingin kita capai. Dalam menetapkan targetnya, hendaknya target tersebut benar-benar jelas dan masuk akal. Kalau kelumpuhan karir tersebut disebabkan target yang sudah dipenuhi, kita harus membuat target baru yang lebih besar dan lebih menantang untuk peningkatan karir kita.
Dua, temukan motivasi baru. Kelumpuhan karir juga disebabkan hilangnya motivasi. Kita perlu mendapatkan kembali hal-hal yang bisa memotivasi kita. Membahagiakan keluarga, menciptakan masa depan yang lebih baik, dan memaksimalkan potensi diri bisa menjadi sumber motivasi bagi kita.
Tiga, tidak berpuas diri. Jika kita sudah berpuas diri dengan apa yang kita kerjakan, puas dengan posisi kita dalam pekerjaan, dan puas dengan hasil kerja kita, bisa-bisa kita akan mengalami kelumpuhan karir, sebab tanda awal dari kelumpuhan karir adalah berpuas diri. Memang Alkitab mengajarkan kepada kita untuk mengucap syukur dalam segala hal. Namun hal tersebut bukan berarti membuat kita berhenti dan berpuas diri. Masih ada kesuksesan besar yang perlu kita raih. Masih ada jenjang karir yang lebih tinggi yang perlu kita capai. Masih ada potensi dalam diri yang perlu kita tingkatkan.
Kelumpuhan karir hanya akan membuat potensi diri kita mati dan tidak berkembang.

Jangan Cari Kesalahan Orang

Bacaan: Matius 7:1-5
Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu ...- Matius 7:3

Sebuah puisi menulis seperti ini : Jangan mencari kesalahan orang yang timpang Atau tersandung-sandung di sepanjang jalan kehidupan, Kecuali engkau sudah mengenakan sepatu yang dipakainya, Atau menanggung beban yang dipikulnya Mungkin ada paku dalam sepatunya yang melukai kakinya, Meski tersembunyi dari pandanganmu, beban yang ditanggungnya, bila kaupikul di punggungmu, mungkin ‘kan membuatmu tersandung pula. Jangan terlalu keras pada orang yang melakukan kesalahan Atau melempari dia dengan kayu atau batu Kecuali engkau yakin, ya, sangat yakin, Bahwa kau sendiri tak punya kesalahan.
Saya memiliki kebiasaan buruk, yang hampir semua dari Anda memilikinya juga. Menilai orang lain dengan poin yang sangat rendah. Dengan mudah kita akan berkata, begitu saja tak bisa, tak becus, dasar o’on, bodoh, tolol dan perkataan menyakitkan lainnya. Saat melihat orang lain melakukan kesalahan, dengan mudahnya kita mengetokkan palu layaknya hakim dan menundingnya dengan sinis, tanpa kita pernah mau tahu apa alasannya atau hal-hal apa yang membuat ia melakukan hal itu.
Giliran kita mengalami apa yang ia alami. Atau merasakan apa yang ia rasa. Atau melakukan apa yang ia lakukan. Belum tentu kita bisa melakukannya dengan baik, atau jangan-jangan poin kita justru ada dibawahnya. Lihat saja para penonton bola yang bisanya cuma teriak-teriak dan memaki-maki pemain yang sedikit saja melakukan kesalahan. Sesekali turun ke lapangan dong, dan tunjukkan permainan bola Anda!, demikian saya akan menantangnya.
Tak perlu menilai orang lain, sebab kita tidak pernah tahu seperti apa kita seandainya berada di posisinya. Belajar memahami orang lain jauh lebih baik daripada kita mengecamnya. Kita bukan manusia yang anti kesalahan, lalu mengapa kita begitu mudah mencaci kesalahan orang? Paling tidak kita harus pernah mengalaminya sendiri lebih dulu, barulah kita boleh berkata-kata.
Stop menilai orang lain sebelum kita mengalaminya lebih dulu.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More