Sunday, February 26, 2012

Dua Wajah Yesus

Sumber : st-yohanesbosco.org

Dunia ini mulai dihidupi oleh manusia pertama ditandai dengan godaan. Bersama dengan godaan itu adalah perbuatan dusta atau bohong. Pihak yang paling bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran ini adalah iblis atau sering disebut setan. Memang iblis ini sudah ada sejak penciptaan. Kita tidak perlu sibuk menggugat mengapa Allah sampai hati mengadakan juga iblis selain semua ciptaan lainnya.

Cukup saja bagi kita untuk menyadari bahwa iblis adalah makhluk yang sangat cerdik. Ia sangat gembira jika kecerdikannya itu berhasil menggoda manusia dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Pekerjaan utama iblis ialah merampas, merusak dan merugikan apa yang sudah diciptakan dan diatur dengan baik oleh Allah.

Apakah Allah menyesal karena telah mengadakan Iblis? Tentu tidak. Karena kalau menyesal berarti Allah mengakui kelebihan iblis. Seakan-akan Allah terbawa oleh kekuatan iblis maka meluangkan waktu untuk berpikir atau merasakan hebatnya atau keterlaluan tindakan iblis. Sekali lagi tidak! Kejahatan iblis yang telah melawan Allah sendiri mengakibatkan ia mendapat ganjaran dengan mendiami secara abadi kegelapan atau neraka. Menetap di dalam hukuman abadi, iblis berusaha melawan Allah secara tidak langsung dengan mengarahkan perburuannya kepada manusia ciptaan Allah. Ia ingin sekali memenangkan manusia supaya jangan mengikuti Allah, jangan memenuhi surga tetapi memenuhi kerajaannya di neraka.

Yesus sebagai manusia juga tidak luput dari godaan iblis. Hal itu terjadi lebih dari 2000 tahun lalu ketika Ia sedang berpuasa selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun. Melihat Yesus sendirian dan dalam keadaan lapar dan haus yang amat sangat, iblis dengan kecerdikannya ingin sekali menang dalam daya tipuannya. Seandainya waktu itu Yesus berhasil digoda atau dilumpuhkan oleh iblis, semua kisah Kitab Suci bisa menjadi lain dan kita semua yang saat ini percaya kepada Yesus, pasti memiliki kisah yang berbeda dari yang kita miliki saat ini.

Modus operandi iblis biasanya melalui cara-cara yang sama sejak Hawa dan pasangannya Adam hingga pada Yesus dan sampai pada kita masing-masing. Yang pertama ditangkap oleh iblis ialah titik lemah keadaan atau kemampuan manusia. Saat-saat manusia menjadi lemah ialah ketika kemampuan kodratinya seperti pikiran, kehendak, perasaan tidak dalam keadaan stabil sehingga tidak memberi jaminan untuk bertahannya keteguhan iman, keyakinan, pilihan-pilihan dasar, tanggung jawab dan komitmen. Di samping itu kelemahan manusia juga terjadi ketika keadaan fisik tidak dalam suasana yang nyaman, misalnya karena lapar, haus, sakit, capai, menyendiri dan kesepian.

Setelah mendapatkan titik lemah manusia, iblis melanjutkan dengan menguasai pusat kendali dan kesadaran manusia yaitu pikiran. Otak manusia dimasuki dengan pikiran yang meragukan. Melalui kemampuan untuk meragukan ini, manusia dengan mudah menggugat dan meragukan Allah. Setelah berhasil meragukan kuasa dan kasih Allah, manusia lalu memutuskan untuk mengikuti tawaran iblis yang pasti sangat menarik dan sudah di depan mata. Di sinilah dosa terjadi.

Saat Hawa dicoba, ia dibuat supaya dapat meragukan Allah dengan kurang lebih rumusan argumen ini ada di pikirannya: apa benar Allah memang begitu seperti yang dikatakan iblis? Apa benar Allah itu mahakuasa, apakah Ia punya kuasa untuk menghukum, apakah Ia memang tahu dengan mataNya sendiri kalau perbuatan ini terpaksa dilakukan? Dan masih banyak lagi ungkapan serupa yang keluar dari pikiran yang ragu. Setan juga melakukan yang sama terhadap Yesus ketika Yesus berada di padang gurun. Yesus hendak dicuci otakNya supaya dapat meragukan Bapa yang mengutusNya: seolah-olah meragukan bahwa Bapa tidak bisa melakukan perbuatan besar tetapi iblis yang bisa melakukannya. Namun untung Yesus lebih kuat dari pada iblis maka rencana pencucian otak Yesus gagal total. Iblis nampaknya tidak menyerah begitu saja saat itu, sehingga ia menunggu saja pada waktu-waktu lain untuk terus mencobai Yesus.

Dalam menghadapi cobaan-cobaan di dunia ini, Tuhan Yesus harus menjadi contoh utama kita. Pada setiap cobaan iblis, Yesus tidak membiarkan titik lemah keadaan dirinya mendikte jiwaNya. Keadaan jiwaNya sungguh sangat kuat karena dikuasai oleh Roh Kudus. Maka Ia berhasil menolak godaan dan mengusir iblis. Jika pada setiap godaan, meski keinginan atau keadaan tubuh kita dalam keadaan lemah sehingga mudah sekali dikuasai godaan iblis, jiwa kita jangan pernah takluk dengan dikte tubuh kita. Misalnya, dalam menghadiri Ekaristi, kotbah imam sungguh membosankan dan bikin mengantuk. Tetapi karena jiwa ini dalam suasana stabil, saya tidak membiarkan rasa kantuk mengusai saya. Banyak orang di sekitar kita mengutamakan pengorbanan atau matiraga tertentu demi suatu kebaikan lebih besar entah bagi diri sendiri maupun orang lain yang dikasihinya; hal itu adalah contoh bagaimana mereka tidak membiarkan keadaan atau keinginan duniawi mendikte kepentingan yang lebih luhur dan mulia. Di sini kita temukan seorang Yesus dengan wajah mulia, agung, berwibawa atau majestic. Yesus yang seperti ini, dan kiranya kita bisa meneladaniNya, kita tentu akan menjadi superior terhadap godaan dan iblis.

Yesus telah mengalami segala jenis godaan, termasuk apa yang direncanakan oleh iblis untuk mencobanya di waktu lain dan hal itu sungguh terjadi saat Yesus berada di atas salib. Artinya bahwa pada setiap godaan atau cobaan yang kita hadapi, Yesus hanya tersenyum dan memberi jaminan pada kita untuk take it easy! Ia hendak membuat kita percaya diri bahwa kita mampu mengatasi dengan bantuan kuasaNya. Ia tidak tega membiarkan kita binasa karena tipu daya iblis. Di sini kita temukan diri Yesus dengan wajah yang sympathetic pada kita yang ada dalam cobaan.

Maka setiap kali kita menghadapi cobaan, ingat dan pikirkan dua wajah Yesus ini: majestic dan symphatetic Jesus. Semoga kita dapat mengatasi setiap godaan, meninggalkan iblis dan akhirnya mengikuti Yesus Kristus.
(P. Peter Tukan, SDB)

0 comments:

Post a Comment

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More