Wednesday, February 29, 2012

Takut Akan Tuhan


"Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintahNya karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat" (Pkh 12:13-14)


Sebagian orang bereaksi negatif terhadap kata takut akan Tuhan. Tuhan menurut mereka adalah Tuhan yang penuh kasih, baik dan lembut- dan itu memang benar. Mereka menganggap sebagai pengikut Yesus, dosa yang mengikat mereka telah dipatahkan- dan itu juga benar. Dengan demikian, apakah nasihat Salomo hanya berlaku buat orang-orang yang tidak percaya di masa Perjanjian Lama? Tentu saja tidak, karena Salomo berbicara pada semua orang untuk takut akan Tuhan. Lebih dari itu, nasihat takut akan Tuhan juga berulang kali disebutkan di Perjanjian Baru. 

Apa Arti Takut Akan Tuhan?
Ada banyak diantara kita yang takut akan banyak hal seperti takut akan ketinggian, takut akan keramaian, takut berada di dalam lift, atau juga takut akan serangga. Sebagian bahkan membutuhkan terapi untuk mengatasinya. Takut akan Tuhan bukanlah seperti itu. Pengertian takut akan Tuhan menjadi jelas jika kita mengerti siapa dan seperti apa Tuhan itu.
Secara Alkitabiah, takut akan Tuhan berbicara tentang kekuatan, kebesaran, otoritas dan kekudusan Tuhan. Takut akan Tuhan adalah wujud ketakutan yang sehat. Artinya kita menghormati Dia, patuh dalam penghakimanNya atas dosa-dosa kita, berpegang pada Dia, mengenali Dia sebagai Tuhan yang absolut dan memuliakanNya. Takut akan Tuhan akan membawa kita lebih dekat pada Tuhan- bukan menjauh dariNya.

Mengapa Tuhan Menghendaki Kita Untuk Takut PadaNya?
Salomo berkata, takut akan Tuhan dan patuh padaNya adalah kewajiban setiap orang. Ams 1:7 dan Ams 9:10 mengajarkan bahwa takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan dan awal dari hikmat. Saat kita takut akan Tuhan, berserah dan memuliakanNya, kita sebenarnya menunjukkan bahwa kita mengenal Dia. Antara yang diciptakan dengan Sang Pencipta. Takut akan Tuhan menunjukkan bahwa kita menanggapi Tuhan dengan sungguh-sungguh dan kita berkeinginan untuk terus menyenangkanNya dengan segala perbuatan dan perkataan. Bahwa kita mendasarkan semuanya pada Tuhan, setiap waktu, setiap saat. Sehingga dengan demikian kita berkenan di hadapanNya dalam menghadapi tahta pengadilan Kristus. 

Takut Akan Tuhan Mempersiapkan Kita
Begitu banyak orang yang tidak mengerti pentingnya hidup dengan rasa takut akan Tuhan yang wajar. Ada orang-orang yang terlihat religius, setidaknya mereka ke gereja setiap minggu. Ada pula yang mengaku percaya akan Tuhan tetapi sehari-harinya memberikan Tuhan waktu yang terlalu sedikit. Walaupun mereka  mengaku percaya, tetapi mereka hidup selayaknya orang-orang yang tidak percaya. Itu sebabnya Alkitab penuh dengan peringatan untuk takut akan Tuhan. 
Seringkali kita lupa akan Tuhan, mudah bagi kita untuk terfokus pada pemikiran kita sendiri dalam kehidupan dan menjadi lupa akan tujuan utama Tuhan memberikan kita kehidupan. Dia menginginkan kesetiaan kita, kasih kita, kebersekutuan kita dan puji-pujian kita. Sesungguhnya, tujuan kita yang terutama adalah untuk mempererat hubungan kita dengan Tuhan. Dengan rasa takut akan Tuhan dan berpegang pada perintah-perintahNya, kita akan berani dan siap menghadapi hari penghakiman untuk kemudian masuk dalam kehidupan kekal bersamaNya di surga.

Sunday, February 26, 2012

Latihan Manusia Yang Termulia

Sumber : Kuasa Karena Doa, E.M.Bounds

Selama menderita sakit, saya terdorong untuk menguji kehidupan saya, dalam hubungannya dengan kehidupan yang kekal, lebih erat lagi daripada yang pernah saya lakukan pada waktu saya dalam keadaan sehat. Dalam penyelidikan berkenaan dengan tugas kewajiban saya terhadap sesama sebagai seorang manusia, sebagai seorang pendeta Kristen, dan sebagai seorang pemimpin Gereja, saya merasa dibenarkan oleh kata hati saya. Tetapi dalam hubungan saya kepada Penebus dan Juru Selamatku, maka hasilnya lain sama sekali.
Rasa syukur dan terima kasih saya, ketaatan saya sungguh tak sebanding dengan kasihNya, penebusanNya, pemeliharaanNya, perlindunganNya terhadap seluruh kehidupan saya mulai drai masa kecilku hingga masa tuaku. Kedingan kasih saya kepadaNya, yang lebih dahulu telah mengasihi saya, dan yang sudah begitu banyak berbuat kebaikan bagi saya sungguh menghancurkan dan membingungkan saya. Dan lagi, untuk melengkapi watak saya yang tidak berharga itu, bukan saja saya lalai untuk mengembangkan karunia yang telah diberikan kepada saya untuk memperluas tugas kewajiban dan hak istimewa saya, tetapi juga karena kelalaianku itu saya telah mundur dalam kegairahan dan kasih saya yang mula-mula, sedangkan hidup saya penuh dengan kekuatiran dan pekerjaan yang membingungkan. Maka kusutlah hati saya, saya merendahkan diri saya, memohon ampun, dan memperbaharui janji saya untuk berusaha dan mempersembahkan diri saya tanpa syarat kepada Tuhan.
Uskup McKendree

Kesanggupan Kita Berasal Dari Tuhan

Sumber : Kuasa Karena Doa, E.M.Bounds
 
Tetapi diatas semuanya ia mempunyai kelebihan di dalam berdoa. Kedalaman batinya, pengaruh rohnya, tegur sapanya yang sopan dan penuh hormat, perangainya yang lembut, kata–katanya yang sedikit namun penuh arti sering menarik orang, sekalipun orang asing dengan kekaguman sebagaimana hal-hal itu dipakai untuk mencapai orang lain dengan penghiburan. Perasaan hidup yang paling hebat yang pernah saya rasakan atau alami, dan yang harus saya katakan, ialah doanya. Dan sungguh ini adalah suatu kesaksian. Ia mengenal dan hidup lebih dekat dengan Allah daripada oranglain. Karena mereka yang mengenal Dia akan melihat pentingnya untuk mendekati Dia dengan rasa takut dan penuh hormat.               
Kesan William Penn mengenai George Fox

Tembok Pemisah

Ditulis oleh Multimedia Graha Bethany   
Rabu, 26 Oktober 2011 00:00
Ayat Bacaan : Nehemia 3; Efesus 4:24

“….Pula tembok diperbaiki sepanjang seribu hasta sampai pada pintu gerbang Sampah”
(Nehemia 3:13).

Jika mendengar kata tembok, maka bayangan yang ada di pikiran kita adalah kekuatannya. Pastilah tidak ada orang yang membangun tembok dengan asal-asalan karena akan sangat merugikan sekali bagi orang tersebut. Dan setiap rumah pastilah ada temboknya, mulai dari tembok luar (pagar luar), tembok dalam dan sebagainya.

Tetapi ada satu tembok yang harus kita bangun dalam kehidupan kita. Tembok apakah yang harus kita bangun?


1. Tembok manusia baru.
Kenapa perlu dibangun tembok manusia baru? Hal ini berbicara tentang kehidupan kita. Jika masih manusia lama, maka yang berkuasa adalah manusia jasmani kita. Yang ada hanyalah keinginan kedagingan kita dan jika kita menuruti kedagingan maka kita menjadikan diri kita seteru Allah. Di dalam Galatia 5:19-21 sudah nyata sekali bahwa kita tidak boleh lagi hidup dalam kedagingan kita. Inilah tembok pemisah kita bahwa kita tidak lagi terikat dengan kedagingan. Menurut Efesus 4:24 dikatakan, “dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Dengan mengenakan manusia baru maka kita sama dengan membangun tembok pemisah yang tidak dapat dipanjat lagi supaya kita tidak bisa kembali kepada manusia lama kita yang telah menjadi seteru Allah.

2. Tembok Kebenaran.
Kita harus ingat bahwa kita adalah manusia yang telah dibenarkan oleh darah Yesus. Di dalam Roma 5:1 dikatakan, ”Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.” Tanpa pembenaran dari Tuhan Yesus Kristus maka kita tidak akan dapat menghampiri tahta Allah Bapa.

3. Tembok Kekudusan
. Kekudusan sangatlah mutlak kita miliki, karena tanpa kekudusan kita tidak akan pernah bersekutu dengan Allah Bapa di dalam Tuhan Yesus Kristus Tuhan kita. Kekudusan adalah syarat mutlak untuk bisa hidup bersekutu dengan Tuhan Yesus. Di dalam Ibrani 12:14 dikatakan, “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. ( http://iix.bethanygraha.org )

Renungan :
Allah memang sudah menghancurkan tembok perseteruan dengan manusia (Efesus 2:14). Tetapi ada juga tembok yang harus didirikan setelah itu, supaya hidup kita memiliki persekutuan yang berkenan kepada-Nya.

Jangan membuka tembok bagi dosa.
 

Dua Wajah Yesus

Sumber : st-yohanesbosco.org

Dunia ini mulai dihidupi oleh manusia pertama ditandai dengan godaan. Bersama dengan godaan itu adalah perbuatan dusta atau bohong. Pihak yang paling bertanggung jawab atas pelanggaran-pelanggaran ini adalah iblis atau sering disebut setan. Memang iblis ini sudah ada sejak penciptaan. Kita tidak perlu sibuk menggugat mengapa Allah sampai hati mengadakan juga iblis selain semua ciptaan lainnya.

Cukup saja bagi kita untuk menyadari bahwa iblis adalah makhluk yang sangat cerdik. Ia sangat gembira jika kecerdikannya itu berhasil menggoda manusia dan akhirnya jatuh ke dalam dosa. Pekerjaan utama iblis ialah merampas, merusak dan merugikan apa yang sudah diciptakan dan diatur dengan baik oleh Allah.

Apakah Allah menyesal karena telah mengadakan Iblis? Tentu tidak. Karena kalau menyesal berarti Allah mengakui kelebihan iblis. Seakan-akan Allah terbawa oleh kekuatan iblis maka meluangkan waktu untuk berpikir atau merasakan hebatnya atau keterlaluan tindakan iblis. Sekali lagi tidak! Kejahatan iblis yang telah melawan Allah sendiri mengakibatkan ia mendapat ganjaran dengan mendiami secara abadi kegelapan atau neraka. Menetap di dalam hukuman abadi, iblis berusaha melawan Allah secara tidak langsung dengan mengarahkan perburuannya kepada manusia ciptaan Allah. Ia ingin sekali memenangkan manusia supaya jangan mengikuti Allah, jangan memenuhi surga tetapi memenuhi kerajaannya di neraka.

Yesus sebagai manusia juga tidak luput dari godaan iblis. Hal itu terjadi lebih dari 2000 tahun lalu ketika Ia sedang berpuasa selama 40 hari dan 40 malam di padang gurun. Melihat Yesus sendirian dan dalam keadaan lapar dan haus yang amat sangat, iblis dengan kecerdikannya ingin sekali menang dalam daya tipuannya. Seandainya waktu itu Yesus berhasil digoda atau dilumpuhkan oleh iblis, semua kisah Kitab Suci bisa menjadi lain dan kita semua yang saat ini percaya kepada Yesus, pasti memiliki kisah yang berbeda dari yang kita miliki saat ini.

Modus operandi iblis biasanya melalui cara-cara yang sama sejak Hawa dan pasangannya Adam hingga pada Yesus dan sampai pada kita masing-masing. Yang pertama ditangkap oleh iblis ialah titik lemah keadaan atau kemampuan manusia. Saat-saat manusia menjadi lemah ialah ketika kemampuan kodratinya seperti pikiran, kehendak, perasaan tidak dalam keadaan stabil sehingga tidak memberi jaminan untuk bertahannya keteguhan iman, keyakinan, pilihan-pilihan dasar, tanggung jawab dan komitmen. Di samping itu kelemahan manusia juga terjadi ketika keadaan fisik tidak dalam suasana yang nyaman, misalnya karena lapar, haus, sakit, capai, menyendiri dan kesepian.

Setelah mendapatkan titik lemah manusia, iblis melanjutkan dengan menguasai pusat kendali dan kesadaran manusia yaitu pikiran. Otak manusia dimasuki dengan pikiran yang meragukan. Melalui kemampuan untuk meragukan ini, manusia dengan mudah menggugat dan meragukan Allah. Setelah berhasil meragukan kuasa dan kasih Allah, manusia lalu memutuskan untuk mengikuti tawaran iblis yang pasti sangat menarik dan sudah di depan mata. Di sinilah dosa terjadi.

Saat Hawa dicoba, ia dibuat supaya dapat meragukan Allah dengan kurang lebih rumusan argumen ini ada di pikirannya: apa benar Allah memang begitu seperti yang dikatakan iblis? Apa benar Allah itu mahakuasa, apakah Ia punya kuasa untuk menghukum, apakah Ia memang tahu dengan mataNya sendiri kalau perbuatan ini terpaksa dilakukan? Dan masih banyak lagi ungkapan serupa yang keluar dari pikiran yang ragu. Setan juga melakukan yang sama terhadap Yesus ketika Yesus berada di padang gurun. Yesus hendak dicuci otakNya supaya dapat meragukan Bapa yang mengutusNya: seolah-olah meragukan bahwa Bapa tidak bisa melakukan perbuatan besar tetapi iblis yang bisa melakukannya. Namun untung Yesus lebih kuat dari pada iblis maka rencana pencucian otak Yesus gagal total. Iblis nampaknya tidak menyerah begitu saja saat itu, sehingga ia menunggu saja pada waktu-waktu lain untuk terus mencobai Yesus.

Dalam menghadapi cobaan-cobaan di dunia ini, Tuhan Yesus harus menjadi contoh utama kita. Pada setiap cobaan iblis, Yesus tidak membiarkan titik lemah keadaan dirinya mendikte jiwaNya. Keadaan jiwaNya sungguh sangat kuat karena dikuasai oleh Roh Kudus. Maka Ia berhasil menolak godaan dan mengusir iblis. Jika pada setiap godaan, meski keinginan atau keadaan tubuh kita dalam keadaan lemah sehingga mudah sekali dikuasai godaan iblis, jiwa kita jangan pernah takluk dengan dikte tubuh kita. Misalnya, dalam menghadiri Ekaristi, kotbah imam sungguh membosankan dan bikin mengantuk. Tetapi karena jiwa ini dalam suasana stabil, saya tidak membiarkan rasa kantuk mengusai saya. Banyak orang di sekitar kita mengutamakan pengorbanan atau matiraga tertentu demi suatu kebaikan lebih besar entah bagi diri sendiri maupun orang lain yang dikasihinya; hal itu adalah contoh bagaimana mereka tidak membiarkan keadaan atau keinginan duniawi mendikte kepentingan yang lebih luhur dan mulia. Di sini kita temukan seorang Yesus dengan wajah mulia, agung, berwibawa atau majestic. Yesus yang seperti ini, dan kiranya kita bisa meneladaniNya, kita tentu akan menjadi superior terhadap godaan dan iblis.

Yesus telah mengalami segala jenis godaan, termasuk apa yang direncanakan oleh iblis untuk mencobanya di waktu lain dan hal itu sungguh terjadi saat Yesus berada di atas salib. Artinya bahwa pada setiap godaan atau cobaan yang kita hadapi, Yesus hanya tersenyum dan memberi jaminan pada kita untuk take it easy! Ia hendak membuat kita percaya diri bahwa kita mampu mengatasi dengan bantuan kuasaNya. Ia tidak tega membiarkan kita binasa karena tipu daya iblis. Di sini kita temukan diri Yesus dengan wajah yang sympathetic pada kita yang ada dalam cobaan.

Maka setiap kali kita menghadapi cobaan, ingat dan pikirkan dua wajah Yesus ini: majestic dan symphatetic Jesus. Semoga kita dapat mengatasi setiap godaan, meninggalkan iblis dan akhirnya mengikuti Yesus Kristus.
(P. Peter Tukan, SDB)

Pengakuan Iman Rasuli

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
 
Pengakuan Iman Rasuli (Latin: Symbolum Apostolorum atau Symbolum Apostolicum), kadang disebut Kredo Rasuli, adalah salah satu dari kredo yang secara luas diterima dan diakui oleh Gereja-gereja Kristen, khususnya Gereja-gereja yang berakar dalam tradisi Barat. Di kalangan Gereja Katolik Roma, kredo ini disebut Syahadat Para Rasul.

Menurut Katekismus Heidelberg, Pengakuan Iman Rasuli terbagi atas tiga bagian utama yaitu pertama mengenai Allah Bapa dan penciptaan kita. Yang kedua mengenai Allah Anak dan penebusan kita. Yang ketiga mengenai Allah Roh Kudus dan pengudusan kita.

Menurut legenda, para rasul (murid-murid Yesus) sendirilah yang menulis kredo ini pada hari ke-10 (Hari Pentakosta) setelah kenaikan Yesus Kristus ke sorga. Karena isinya mengandung 12 butir, ada keyakinan bahwa masing-masing murid Yesus menuliskan satu pernyataan di bawah bimbingan Roh Kudus. Namun, sebagian sejarahwan berpendapat bahwa kredo ini berasal dari Gaul, Prancis, pada abad ke-5.
Bukti historis konkret yang tertua tentang keberadaan kredo ini adalah sepucuk surat dari Konsili Milano (390 M) kepada Paus Siricius yang bunyinya demikian:
"Bila engkau tidak memuji ajaran-ajaran para imam ... biarlah pujian itu setidak-tidaknya diberikan kepada Symbolum Apostolorum yang selalu dilestarikan oleh Gereja Roma dan akan tetap dipertahankan agar tidak dilanggar."
Kredo ini paling banyak digunakan dalam ibadah orang-orang Kristen di Barat. Catholic Encyclopedia memuat pembahasan terinci tentang asal-usul Pengakuan Iman Rasul ini. Kredo ini adalah rumusan ajaran dasar Gereja perdana, yang dibuat berdasarkan amanat agung Yesus untuk menjadikan segala bangsa muridnya, membaptiskan mereka dalam nama Bapa, Putra dan Roh Kudus (Matius 28:18-20). Karena itu, dari kredo ini kelihatan bahwa doktrin sentralnya adalah Tritunggal dan Allah sang Pencipta.

Pada masa ketika kebanyakan umat Kristen masih buta huruf, pengulangan secara lisan Pengakuan Iman Rasul ini seiring dengan Doa Bapa Kami dan Sepuluh Perintah Tuhan (Dasa Titah) membantu melestarikan dan menyebarkan iman Kristiani dari gereja-gereja Barat. Pengakuan Iman Rasul tidak memiliki peran di Gereja Ortodoks Timur.

Versi tertulis yang paling awal kemungkinan adalah Kredo Tanya Jawab Hipolitus (sekitar 215 M). Versi yang sekarang pertama kali ditemukan di dalam tulisan-tulisan Caesarius dari Arles (wafat 542). Pengakuan Iman Rasul ini rupanya digunakan sebagai ringkasan ajaran Kristen untuk calon-calon baptisan di gereja-gereja Roma. Oleh karena itu dikenal juga sebagai Symbolum Romanum (Roman Symbol). Dalam versi Hipolitus, Pengakuan Iman ini diberikan dalam bentuk tanya jawab dengan calon baptisan yang kemudian mengakui bahwa mereka percaya tiap pernyataan.

Friday, February 24, 2012

Dapatkah manusia hidup tanpa Allah?

sumber : http://www.gotquestions.org


Bertolakbelakang dengan klaim dari orang-orang ateis, aesthetes, dan epikurian selama berabad-abad, manusia tidak dapat hidup tanpa Allah. Manusia dapat memiliki keberadaan yang fana tanpa mengakui Allah, namun tidak bisa tanpa fakta mengenai Allah.

Sebagai Pencipta, Allah menjadi sumber kehidupan manusia. Mengatakan bahwa manusia bisa ada tanpa Allah adalah sama dengan mengatakan bahwa jam tangan bisa ada tanpa pembuat jam, atau sebuah cerita tanpa yang menceritakan. Keberadaan kita adalah karena Allah yang menciptakan kita dalam rupaNya (Kejadian 1:27). Keberadaan kita bergantung kepada Allah baik kita mengakui keberadaanNya atau tidak.

Sebagai Pemelihara, Allah terus menerus memberikan kehidupan (Mazmur 104:10-32). Dia adalah Hidup (Yohanes 14:6), dan semua ciptaan dipelihara oleh kuasa Kristus (Kolose 1:17). Bahkan mereka yang menolak Allah menerima makanan dari Allah: “Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45) Memikirkan bahwa manusia dapat hidup tanpa Allah adalah sama dengan menganggap bahwa bunga matahari dapat hidup tanpa cahaya atau mawar tanpa air.

Sebagai Juruselamat, Allah memberi hidup kekal kepada mereka yang percaya. Di dalam Kristus ada hidup yang adalah terang manusia (Yohanes 1:4). Yesus datang supaya kita dapat memiliki hidup “yang berkelimpahan” (Yohanes 10:10). Semua yang percaya kepadaNya dijanjikan hidup kekal bersama dengan Dia (Yohanes 3:15-16). Untuk seseorang dapat hidup –betul-betul hidup- Dia harus mengenal Kristus (Yohanes 17:3).

Tanpa Allah manusia hanya memiliki hidup jasmani belaka. Allah memperingatkan Adam dan Hawa bahwa pada hari mereka menolak Dia mereka “pasti akan mati” (Kejadian 2:17). Sebagaimana yang kita ketahui, mereka betul-betul tidak taat, namun waktu itu mereka tidak mati secara fisik; namun, mereka mati secara rohani. Ada sesuatu di dalam mereka yang mati—hidup rohani yang mereka pernah alami, persekutuan dengan Allah, kebebasan untuk menikmatiNya, kepolosan dan kemurnian jiwa mereka—semuanya hilang sudah.

Adam, yang telah diciptakan untuk hidup dan bersekutu dengan Allah, dikutuk kepada kehidupan yang sama sekali bersifat jasmani. Apa yang direncanakan Allah dari debu kepada kemuliaan sekarang dari debu kembali kepada debu. Sama seperti Adam, manusia tanpa Allah tetap berfungsi dalam keberadaan duniawi. Yang begitu kelihatannya bahagia, karena toh dalam kehidupan ini ada saja kenikmatan dan kesenangan.

Ada orang yang menolak Allah yang hidup senang dan bergembira. Pengejaran duniawi mereka kelihatannya menghasilkan keberadaan yang bebas dari kekuatiran dan penuh hasil. Alkitab mengatakan bahwa di dalam dosa ada kesenangan tertentu (Ibrani 11:25). Masalahnya adalah hal itu bersifat sementara; hidup dalam dunia adalah singkat adanya (Mazmur 90:3-12). Cepat atau lambat, orang hedonis, sama seperti anak yang hilang dalam perumpamaan, akan mendapatkan bahwa kesenangan dunia tidak dapat terus dipertahankan (Lukas 15:13-15).

Namun demikian, tidak setiap orang yang menolak Allah hidup dalam kesia-siaan. Ada banyak orang yang belum diselamatkan yang hidup secara disiplin, hidup dengan teratur – bahkan senang dan puas. Alkitab menyajikan prinsip-prinsip moral tertentu yang akan bermanfaat bagi setiap orang dalam dunia – kesetiaan, kejujuran, penguasaan diri, dll. Amsal 22:3 adalah contoh dari kebenaran umum demikian. Namun kembali masalahnya adalah bahwa tanpa Allah manusia hanya memiliki dunia ini. Hidup yang lancar bukan merupakan jaminan bahwa kita siap untuk meninggalkan dunia ini. Lihat perumpamaan petani yang kaya dalam Lukas 12:16-21 dan percakapan Yesus dengan orang muda yang kaya (namun amat bermoral) dalam Matius 19:16-23.

Tanpa Allah, manusia tidak akan puas, sekalipun dalam kehidupan fana ini. Thomas Merton mengatakan bahwa manusia tidak akan damai dengan sesamanya karena dia tidak berdamai dengan dirinya sendiri, dan dia gelisah dengan diri sendiri karena dia tidak berdamai dengan Allah.

Pengejaran kesenangan semata-mata demi kesenangan adalah tanda kegelisahan batin, sekalipun ditutupi dengan topeng kegembiraan. Para pengejar kesenangan di sepanjang zaman telah berulang-ulang mendapatkan bahwa hiburan sementara menghasilkan kepahitan yang lebih dalam. Perasaan dalam hati bahwa “ada sesuatu yang tidak beres” sulit untuk dikesampingkan. Raja Salomo membiarkan dirinya mengejar semua kesenangan yang ditawarkan oleh dunia ini, dan dia mencatat apa yang dia dapatkan dalam kitab Pengkhotbah.

Salomo mendapatkan bahwa pengetahuan, dalam dan pada dirinya sendiri, adalah kesia-siaan (Pengkhotbah 1:12-18). Dia mendapatkan bahwa kesenangan dan kekayaan adalah kesia-siaan (2:1-11), materialisme adalah kebodohan (2:12-23), dan kekayaan itu seperti asap (pasal 6).

Salomo menyimpulkan bahwa hidup adalah karunia Allah (3:12-13) dan satu-satunya cara hidup yang bijaksana adalah takut akan Allah “Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” (Pengkhotbah 12:13-14)

Dengan kata lain, hidup bukan hanya sekedar dimensi fisik. Yesus menekankan poin ini ketika Dia mengatakan, “Tetapi Yesus menjawab: "Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah"” (Matius 4:4). Bukan roti (jasmani) namun Firman Allah (rohani) yang memelihara kehidupan kita. Blaise Pascal mengemukakannya dengan cara demikian, “Adalah sia-sia, hai manusia, untuk mencari dalam dirimu sendiri obat penawar untuk segala kesengsaraanmu.” Manusia hanya dapat menemukan hidup dan kepuasan ketika dia mengakui Allah.

Tanpa Allah nasib manusia adalah kematian. Manusia tanpa Allah mati secara rohani; ketika hidup jasmaninya berakhir, dia menghadapi kematian yang berkelanjutan – pemisahan dari Allah untuk selama-lamanya. Dalam kisah Yesus mengenai orang kaya dan Lazarus (Lukas 16:19-31), orang kaya itu hidup bersenang-senang tanpa memikirkan Allah, sementara Lazarus menderita dalam hidupnya namun mengenal Allah. Baru setelah kematian mereka barulah keduanya memahami seriusnya pilihan mereka ketika mereka masih hidup. Orang kaya itu “mengangkat matanya,” dalam penderitaan neraka. Dia menyadari, sudah terlambat, bahwa hidup bukan sekedar yang terlihat. Sementara itu Lazarus dihibur di firdaus. Bagi kedua orang itu, keberadaan mereka yang singkat dalam dunia ini tidak dapat dibandingkan dengan keadaan jiwa mereka yang permanen.

Manusia adalah ciptaan yang unik. Allah telah menempatkan kekekalan dalam hati kita (Pengkhotbah 3:11), dan rasa kekekalan itu hanya dapat dipuaskan di dalam Allah sendiri.

Warren Barfield - Love is Not a Fight




Love is not a place
To come and go as we please
It's a house we enter in
And then commit to never leave

Lock the door behind you
Throw away the key
We'll work it out together
Let it bring us to our knees

Love is a shelter in the raging storm
Love is peace in the middle of a war
If we try to leave, may God send His angels to guard the door
No, love is not a fight but it's something worth fighting for

To some, love is a word
That they can fall into
But when they're falling out
Keeping that word is hard to do

Love will come to save us
If we'll only call
He will ask nothing of us
But demand we give our all

I will fight for you
Would you fight for me?
It's worth fighting for

John Waller - While I'm Waiting

I'm waiting
I'm waiting on You, Lord
And I am hopeful
I'm waiting on You, Lord
Though it is painful
But patiently, I will wait

I will move ahead, bold and confident
Takeing every step in obedience
While I'm waiting
I will serve You
While I'm waiting
I will worship
While I'm waiting
I will not faint
I'll be running the race
Even while I wait

I'm waiting
I'm waiting on You, Lord
And I am peaceful
I'm waiting on You, Lord
Though it's not easy
But faithfully, I will wait
Yes, I will wait
I will serve You while I'm waiting
I will worship while I'm waiting
I will serve You while I'm waiting
I will worship while I'm waiting
I will serve you while I'm waiting
I will worship while I'm waiting on You, Lord

Leeland - Brighter Days



Time keeps moving on
Through the sunshine and the storm
And my dreams are set in stone
And someday I'll be who I want to be
For now I'll wait
For the sun to shine again
And for now I'll wait
For the rain to pass away

And I'm looking for the brighter days
When all my hurts seem to fade away
I'm looking for the brighter days to come my way

Faces come and faces go
But none seem to look my way
And walls have stood and walls have fallen
But my heart seems to wait
For now I'll sit at the end of the road
And for now I'll wait
At the end of the pathway

I'll see the sun one day shine upon me
I'll see the sun one day
And watch the nighttime turn to morning
But for now it all comes back around

Thursday, February 23, 2012

IMAN DAN PERCAYA

sumber : http://www.alkitab.or.id
Kata "iman" dan  kata kerjanya "percaya" sering muncul dalam Al­kitab, dan memang merupakan istilah penting yang meng­gam­bar­kan hubungan antara umat  atau  seseorang  dengan Allah. Di bawah ini akan ditin­jau secara singkat  makna istilah itu dalam Alkitab, khususnya dalam Perjanjian Baru. Kata "iman" yang dipakai dalam Perjanjian Baru me­ru­pakan terjemahan dari kata Yunani πίστις (pistis), sedangkan kata kerja­nya "percaya" adalah terjemahan dari kata πιστεύω (pisteuoo).  Kata-kata ini sudah dipakai dalam Septuaginta, Alkitab Ibrani (Perjanjian Lama) dalam bahasa Yunani, sebagai terjemahan kata Ibrani ¤m' (aman), yang berarti keadaan yang benar dan dapat dipercayai/diandalkan. Kata ini dan kata-kata sekelompoknya dalam Alkitab Ibrani sering digunakan untuk me­nyatakan rasa percaya kepada Allah dan percaya kepada firman-Nya. Per­caya kepada Allah mencakup arti percaya bahwa Ia benar dan dapat diandalkan, mempercayakan diri kepada-Nya, dan taat serta setia kepa­da-Nya. Percaya pada firman-Nya berarti percaya dan menerima  apa yang sudah difirmankan-Nya itu.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa istilah iman dan percaya dalam Alkitab sering mengandung komponen-komponen makna sebagai berikut:
  1. percaya dan menerima bahwa sesuatu itu benar,
  2. mengandalkan/mempercayakan diri
  3. setia, dan
  4. taat. 
Kata Yunani pistis sering mempunyai komponen-komponen makna seperti tersebut di atas, baik dalam Septuaginta maupun dalam Perjanjian Baru. Dalam konteks tertentu hanya satu atau dua komponen makna yang difokuskan, dan komponen lainnya tidak ditekankan, atau malahan tidak berlaku.
Dalam Perjanjian Baru, "iman" terutama ditujukan kepada Yesus, yaitu percaya kepada-Nya dan perkataan-Nya, bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat, dan mempercayakan diri kepada-Nya, serta juga percaya dan menerima kebenaran Injil. Berikut ini kita akan memeriksa arti  pistis dan pisteuoo dalam terjemahan Perjanjian Baru bahasa Indonesia versi Terjemahan Baru (TB):
Matius 9:22           "Imanmu telah menyelamatkan engkau!" 
Iman di sini berarti percaya kepada perkataan Yesus dan mem­percayakan diri kepada-Nya. Bandingkan terjemahan dalam Alki­tab Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS): "Karena engkau percaya kepada-Ku, engkau sembuh!"         
Markus 1:15          "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"
Kata percaya di sini menekankan komponen makna pertama, yak­ni bahwa Injil itu benar dan dapat dipercaya, sehingga dapat juga diterjemahkan, "Percayalah dan terimalah Injil!"
Galatia 2:16            Kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan karena iman dalam Kristus.
Dalam ayat ini "percaya" dan "iman", kedua-duanya memiliki se­lu­ruh komponen maknanya. "Iman dalam Kristus" berarti percaya bahwa Injil tentang Yesus itu benar, dan mempercayakan diri kepada Yesus dengan komitmen akan setia dan taat kepada-Nya.
Roma 10:9              Sebab jika engkau mengaku dengan mulutmu bahwa
Yesus adalah Tuhan, dan percaya dengan hatimu
bahwa Allah telah membangkitkan Dia…
"Percaya" di sini adalah percaya akan berita tentang kebangkitan-Nya, dan menerimanya dengan segala konsekuensinya. Kata paralel "meng­aku menunjukkan bahwa percaya itu bermuara dalam per­bu­atan pengakuan. Ungkapan "percaya dalam hati" menandakan  bah­wa percaya itu harus kuat dan teguh.
Yohanes 2:24        Tetapi Yesus sendiri tidak mempercayakan diri-Nya kepada mereka.
TB menekankan komponen makna yang kedua dalam konteks ini, yakni  komponen "mempercayakan diri." Begitu juga BIS menerje­mah­kannya:  "Tetapi Yesus sendiri tidak percaya mereka."
Selain arti yang pokok seperti diuraikan dengan beberapa contoh di atas, "iman" dalam PB menurut konteksnya kadang-kadang mempu­nyai arti yang berbeda, yaitu:
  1. kemampuan atau sifat baik orang Kristen, atau
  2. agama Kristen, atau juga
  3. ajaran atau doktrin Kristen.
Umpamanya:
Roma 12:6              "Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita                                 melakukannya sesuai dengan iman kita."
Kata "iman" di sini menunjukkan sifat atau kesanggupan, sehing­ga BIS menerjemahkannya, "Orang yang mempunyai karunia untuk mengabarkan berita dari Allah, harus mengabarkan berita dari Allah itu menurut kemampuan yang ada padanya."
Efesus 4:5              Satu Tuhan, satu iman, satu baptisan.
Kata "iman" di sini dapat diartikan sebagai agama, yakni agama Kristen. 
Yudas 3                  "Kamu tetap berjuang untuk mempertahankan iman                                 yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."
Kata yang diterjemahkan dengan "disampaikan" berarti "dite­rus­kan", dan yang dimaksudkan ialah doktrin atau ajaran yang telah diteruskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Jadi "iman" di sini menunjuk pada seluruh ajaran/doktrin Kristen. [P.G. Katoppo]

Kesaksian Lydia Kandau

Lydia Kandau: Saya ingin menceritakan kepada semua orang, bahwa Tuhan itu
sungguh baik adanya

Sumber: http://aicincheon.tripod.com/id24.html
 Kehidupan artis atau selebritis tak pernah lepas dari gosip. Demikian
ungkapan yang sudah mengakar di khalayak umum. Hal ini bisa dimaklumi,
karena bagaimana pun artis adalah public figure. Demikian halnya yang
dialami oleh artis cantik Lydia Kandau. Kesibukannya dalam pelayanan telah
membuatnya seperti tenggelam dari keartisannya.

Walau demikian, label artis yang telah disandangnya masih melekat. Saat ini
ia kerap diminta bersaksi di berbagai denominasi gereja. Bahkan baru-baru
ini ia mengikuti suatu perjalanan ziarah ke Yerusalem. Istilah cinta buta
mungkin dialami oleh wanita berdarah Manado ini. Kisah cintanya dengan pria
yang tidak seiman berakhir di pelaminan, sekalipun sempat ditentang oleh
pihak keluarga.

Tapi ia nekad, atas dasar cinta ia menikah dengan Jamal Mirdad, seorang
penyanyi. Hari-hari yang dilaluinya setelah pernikahan terasa begitu indah.
Sebagai umat Kristus, seharusnya ia pergi ke gereja di hari Minggu. Tapi
Lydia tidak. Bersama suami tercinta, ia kerap mengisi hari-hari Ahadnya
dengan jalan-jalan, nonton, atau shopping dan sebagainya.

"Makin lama rasanya kok makin jauh dari Tuhan," ungkapnya.

Namun, pikiran seperti itu tidak cukup membuatnya berbalik pada Tuhan. Ia
seolah menikmati semua itu. Anaknya Sakit Aneh Sampai saat anak keduanya
mengalami sakit 'aneh'. "Syaraf kiri anak saya abnormal," tuturnya. Ia
langsung membawanya ke rumah sakit dengan keyakinan setelah ditangani dokter
pasti anaknya sembuh. yang terjadi justru sebaliknya. Makin lama kondisi
anaknya semakin parah. "Seperti obat-obat yang diberi dokter tidak mempan
terhadap penyakitnya. Anak saya seperti mau mati. Matanya tidak mau
terbuka," kisahnya. Akhirnya diputuskan untuk membawa anaknya pulang ke
rumah.

"Saya menangis dan menangis sambil membaringkan anak saya di tempat tidur.
Saya merenung dan larut dalam kebisuan. Seketika saya teringat akan
dosa-dosa saya dulu. Saya tidak setia kepada Tuhan. Padahal Tuhan sudah
begitu baik ada saya," akunya. Seketika itu juga, ia berdoa sambil
bercucuran air mata. Minta ampun atas segala dosa dan ketidaksetiaannya. Ia
betul-betul merasa telah mendukakan hati Tuhan.

"Luar biasa ternyata," ungkapnya. Sesaat ia katakan amin, hati dan batinnya
terasa lega sekali. "Plong rasanya. Saya yakin darah Yesus telah menghapus
dosa-dosa saya," tuturnya sumringah.

Lalu ia melihat anaknya yang masih terbaring dalam keadaan yang
memprihatinkan. Air matanya jatuh lagi. Ia duduk di sisi tempat tidur sambil
mengelus-elus kepala anaknya. Batinnya berkata, "Tuhan, aku tahu Engkau
telah menghapuskan dosaku. Saat ini juga ya Bapa, jikalau Engkau mengasihi
aku, tolong sembuhkan anakku. Aku percaya sepenuh jiwa, Engkau sanggup
melakukan semua itu. Sebab segala perkara dapat kutanggung di dalam Engkau."

Usai berdoa, ia memuji-muji Tuhan dengan kidung pujian yang tiada
putus-putusnya. "Saya berjanji bahwa saya tidak akan pernah berhenti memuji
Tuhan sampai Tuhan sembuhkan anak saya," paparnya. Ternyata ajaib, satu jam
berselang, mata anaknya perlahan mulai terbuka. "Perlahan, tapi pasti mata
anak saya terbuka. Lalu ia bangun dari tempat tidur. Ajaibnya, di wajahnya
tidak ada gambaran kesakitan. Padahal ia baru saja mengalami suatu penyakit
yang luar biasa berat untuk anak seusianya. yang terlukis di wajahnya adalah
sukacita. Sungguh ini suatu mujizat. Saya langsung memeluk anak saya sambil
berkata: "Terima kasih Tuhan," urainya. Sejenak diajaknya anaknya berdoa
bersama. Mengucap syukur atas kesembuhan yang hanya datang dari Allah.
"Tuhan sudah mendengar doa saya," ujarnya saat itu. Setia Melayani

Sejak kejadian itu, ia berjanji akan setia melayani Tuhan.

"Saya ingin menceritakan kepada semua orang, bahwa Tuhan itu sungguh baik
adanya," tukasnya. Ternyata badai itu belum berlalu. Sang suami belum
merestui kemauannya untuk kembali ke gereja. Apalagi harus membawa
anak-anaknya.

"Terpaksa dulu saya berbohong. Membawa anak-anak dengan alasan nonton,
renang, jalan-jalan, dan macam-macam. Padahal sebelum atau sesudah kegiatan
itu kami ke gereja. Habis kalau tidak begitu, mana bisa saya ke gereja,"
kilahnya.

Kami, lanjutnya, harus main petak umpet. Alkitab dulu biasanya disimpan.
Bacanya juga menunggu Jamal pergi.

"Terus terang saya tersiksa dengan keadaan seperti itu," akunya. Tapi ia
sudah punya komitmen, bahwa ia tidak akan menjual Tuhan Yesus karena apa pun
juga. Lama-kelamaan Jamal mulai berubah. Ia semakin menghargai saya. Ia
pernah mengatakan tidak melarang saya atau anak-anak ke gereja.

"Sukacita sekali saat saya mendengar itu," cetusnya.

Lydia memang punya komitmen bahwa anak-anak harus ikut ibunya. Walaupun dua
anaknya bersekolah di Al-Azhar, tapi setiap Minggu, mereka pasti ke gereja.

"Ketika saya mulai pelayanan pun, Jamal tidak melarang. Ia cuma katakan
sebaiknya pelayanan di dalam kota saja. Tidak usah sampai ke luar kota,"
jelasnya.


Isu Dis-Harmoni

Isu yang sempat menerpa pemeran "Merry" dalam sinetron "Gara-Gara" bersama
Jimmy dan Sion Gideon ini adalah disharmoni keluarga. Bahkan dikabarkan
kehidupan rumah tangganya retak. Ketika dikonfirmasikan dengan tegas Lydia
mengatakan tidak benar demikian. "Jamal itu punya kasih. Bahkan mungkin
lebih baik dari orang Kristen sendiri. Ia takut akan Tuhan. Pada dasarnya,
ia ingin dihargai, oleh sebab itu ia pun tahu harus menghargai orang lain
yang berbeda dengan dia," ungkapnya.

Lalu apakah Jamal mendukung pelayanan Lydia yang nampaknya kian hari
intensitasnya kian padat?

"Mendukung tidak, melarang juga tidak," ujarnya. Saat ditanya apakah pernah
ribut-ribut soal agama di rumah, ia menjawab, "Tidak. Tidak pernah. Kami
tidak mau mempersoalkan agama. Itu hak masing-masing. Lydia juga menambahkan
kalau akhir-akhir ini Jamal sering tanya-tanya tentang firman Tuhan. Bahkan
Jamal beberapa kali meminta Lydia membacakan Alkitab sebelum tidur. "Kalau
saya marah, Jamal selalu mengingatkan, katanya "kasih," jelasnya. Apakah
suatu hari Jamal akan masuk Kristen? "Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan,"
tutur Lydia menutup perbincangan.

Mujizat

Mujizat.com :
Kata mujizat berasal dari kata Yunani energemata dunameon yang artinya perbuatan yang penuh kuasa. Ini berarti bahwa untuk dapat mengadakan mujizat sebagaimana yang tercatat dalam alkitab, dibutuhkan kuasa yang sangat besar atau tidak terbatas. Ketika Abram berumur sembilan puluh sembilan tahun, maka TUHAN menampakkan diri kepada Abram dan berfirman kepadanya: "Akulah Allah Yang Mahakuasa, hiduplah di hadapan-Ku dengan tidak bercela (Kejadian 17:1).
Dengan penuh kuasa, Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub (Israel) itu, telah menciptakan langit dan bumi hanya dengan perktaan-Nya (firman-Nya) saja. Suatu mujizat yang dahsyat dan luar biasa.
  Berawal dari mujizat penciptaan itu, maka berbagai mujizat lain pun terjadi. Selain mujizat penciptaan,  ada mujizat penghukuman atas bangsa Mesir berupa berbagai tulah; mujizat pemeliharaan Allah atas bangsa Israel mulai dari membelah laut, menurunkan roti dari surga, merubah air pahit menjadi manis, hingga mengalirkan air dari batu cadas dan seterusnya; serta berbagai mujizat yang sangat beragam di Perjanjian Baru dimana Tuhan Yesus merubah air menjadi anggur, berjalan diatas air, memberi makan lima ribu orang hanya dengan dua ekor ikan dan lima ketul roti, menyembuhkan berbagai penyakit, hingga membangkitkan orang mati. Dan hingga hari ini, berbagai mujizat di berbagai negara di muka bumi ini, dilaporkan terus terjadi.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More