Oleh Pdt. Yohanes Bambang Mulyono Renungan Minggu, 7 Desember 2008
Tahun B: Adven II
MESSIAS DAN DUNIA BARU
Yes. 40:1-11; Mzm. 85:1-2, 8-13; II Petr. 3:8-15; Mark. 1:1-8
Pengantar
Menurut para ahli terdapat periode yang cukup panjang di antara masa akhir Perjanjian Lama dengan awal Perjanjian baru. Masa antara akhir dari kitab Perjanjian Lama dengan awal dari Perjanjian Baru tersebut berlangsung sekitar 400 tahun. Selama masa itu umat tidak memperoleh wahyu dari Tuhan. Itu sebabnya masa antara akhir periode Perjanjian Lama dengan masa awal Perjanjian Baru sering disebut dengan “masa sunyi” (silent period). Tentunya selama 400 tahun kehidupan umat secara faktual tetap dipenuhi oleh hiruk pikuk sejarah dan berbagai pasang-surut peristiwa. Tetapi selama masa sekitar 4 abad tersebut, umat tidak memperoleh penyataan Allah dan firmanNya. Sehingga selama masa sunyi tersebut, umat lebih cenderung menanti-nantikan datangnya penyataan Allah dalam sejarah dan kehidupan mereka. Kini pada saat yang telah ditentukan Allah, penyataan Allah tersebut akhirnya datang. Penyataan Allah tersebut hadir dalam kehidupan Kristus. Itu sebabnya di Mark. 1:1 diawali dengan suatu pernyataan: “Inilah permulaan Injil tentang Yesus Kristus, Anak Allah”. Tentu yang dimaksudkan oleh Injil Markus dengan kata “permulaan” bukan karena Injil Markus merupakan Injil yang muncul pertama kali. Kata “permulaan” yang dipakai oleh Injil Markus lebih menunjuk kepada sejarah atau peristiwa yang dibuat oleh Allah dalam kehidupan umatNya. Setelah masa sunyi yang terentang sekitar 4 abad lamanya, kini Allah berkenan hadir dan bertindak dalam sejarah umatNya. Kehadiran Allah tersebut terjadi dalam diri Yesus Kristus; yang mana Dia adalah Anak Allah. Ini berarti kata “permulaan” yang dipakai oleh Injil Markus bukan hanya untuk menunjuk kepada awal dari penyataan Allah dalam sejarah umatNya, tetapi juga untuk menunjuk kepada suatu proklamasi jati-diri Kristus sebagai Anak Allah. Itu sebabnya sebelum Kristus muncul dalam panggung sejarah, Allah terlebih dahulu mengutus utusanNya yaitu Yohanes Pembaptis untuk mempersiapkan kedatanganNya.
Jadi di dalam Yesus, yang adalah Messias dan Anak Allah, Allah berkenan untuk membuka babak baru dalam sejarah umat manusia. Perjalanan sejarah umat manusia tidak lagi ditentukan dan dikendalikan oleh jatuh bangunnya para penguasa dan raja-raja dunia seperti penaklukkan dunia sebagaimana yang telah dilakukan kerajaan Babel oleh raja Nebukadnezar, Medi-Persia oleh raja Koresy, Yunani oleh Aleksander Agung, dan imperium Romawi yang didirikan oleh Romus dan Remulus; tetapi lebih ditentukan oleh karya keselamatan Allah yang telah dilakukan oleh Yesus Kristus. Kedatangan Kristus ke dalam dunia pada hakikatnya telah membelah sejarah umat manusia dalam 2 periode besar, yaitu masa sebelum Kristus (sM) dan masa sesudah Kristus (M). Sehingga di dalam Kristus, Allah telah memulai suatu dunia yang sama sekali baru; yaitu suatu dunia yang tidak lagi ditentukan oleh seberapa besar kekuatan fisik dan senjata, atau ditentukan oleh seberapa besar kebijaksanaan yang telah dimiliki oleh manusia; tetapi oleh seberapa luas orang-orang yang mau hidup dalam pertobatan dan menyambut pengampunan dari Allah. Semakin banyak orang yang mau hidup dalam pertobatan dan menyambut pengampunan Allah, maka akan semakin besar pula perubahan kualitatif yang terjadi dalam kehidupan umat manusia. Sehingga dalam kehidupan manusia akan lebih ditandai oleh terwujudnya pemerintahan Allah secara nyata. Dengan demikian makna dunia yang baru adalah manakala setiap orang lebih mengedepankan ketaatan kepada kehendak dan rencana Allah dari pada kehendak dan keinginan pribadi atau kelompoknya. Dalam hal ini kita juga terpanggil untuk mewujudkan pemerintahan Allah dalam kehidupan kita sehari-hari yaitu dengan memberlakukan kehendak dan rencana Allah, sehingga kehidupan kita senantiasa ditandai oleh pengosongan diri terhadap kehendak dan keinginan diri sendiri.
Muncul Dari Kesunyian Padang Gurun
Karya keselamatan Allah yang terjadi dalam penyataan Kristus menurut Injil Markus, bukan hanya muncul dari “periode sunyi” setelah hampir 400 tahun Allah tidak menyatakan firmanNya kepada umat Israel. Tetapi dalam Injil Markus juga menyatakan bahwa karya keselamatan Allah yang terjadi dalam penyataan Kristus didahului oleh kedatangan Yohanes Pembaptis dari padang gurun. Dalam hal ini Injil Markus secara sengaja menempatkan lokasi tempat padang gurun sebagai panggung pelayanan dan kesaksian Yohanes Pembaptis selaku bentara Kristus. Sebagai bentara Kristus, dia diutus oleh Allah untuk mempersiapkan jalan bagi Kristus, yaitu membawa banyak orang dalam sikap pertobatan. Sehingga saat Kristus hadir di panggung sejarah, umat Israel dapat lebih siap menyambut kedatanganNya dan menerima Dia selaku Messias dan Anak Allah. Sangat menarik bahwa tokoh Yesus Kristus selaku Anak Allah menurut Injil Markus juga muncul secara “misterius”. Sebab Injil Markus tidak pernah menyaksikan kisah kelahiran Tuhan Yesus sebagaimana yang dilakukan oleh Injil Lukas atau Injil Matius. Jadi maksud “misterius” dari kemunculan Tuhan Yesus di sini lebih menunjuk dari tiadanya keterangan atau informasi sedikitpun dari Injil Markus. Cukup dinyatakan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah. Ini merupakan berita yang paling padat tetapi sangat menentukan. Karena dengan predikat diri Yesus sebagai Anak Allah, keseluruhan dari Injil Markus mau menyaksikan bahwa seluruh kuasa mukjizat dan karya Kristus terjadi karena hadirnya penyataan Allah yang sempurna di dalam diriNya. Yesus Kristus bukan sekedar seorang nabi, tetapi inkarnasi dari Anak Allah yang Mahatinggi (Mark. 5:7) Tujuannya adalah agar umat Israel dan pembaca Injil Markus mau percaya kepada Kristus dan hidup dalam pertobatan.
Dengan demikian makin menjadi jelas bahwa karya keselamatan Allah menurut Injil Markus tidak dimulai dari tempat-tempat yang dianggap terhormat dan beradab seperti kota “metropolis” Yerusalem, tetapi diawali dari kesunyian padang gurun. Dalam hal ini hikmat dan kebenaran Allah tidak ditemukan dalam hiruk-pikuk diskusi agama atau percakapan teologis yang hangat di antara para ahli Taurat di kota Yerusalem, tetapi justru ditemukan dalam keheningan dan kesederhanaan hidup di tempat yang sebenarnya tidak pernah diharapkan oleh manusia yaitu padang-gurun. Justru karena padang-gurun merupakan wilayah yang penuh bahaya selain karena langkanya air minum dan bermukimnya berbagai hewan liar, juga merupakan daerah yang sangat gersang dan begitu terik, sehingga manusia akan lebih cenderung bersandar penuh kepada pemeliharaan Allah. Selama berada di padang gurun, setiap orang dapat semakin belajar untuk tidak membesarkan dan mengagungkan dirinya. Setiap orang di padang gurun akan lebih cenderung untuk menyadari betapa rapuh, kecil dan tiada berdaya dirinya. Sehingga hikmat dan kebenaran Allah bukan diperoleh dari banyaknya pengetahuan teologis yang berhasil diserap dan dikuasai oleh manusia, tetapi diperoleh dari sikap yang mau menyadari keterbatasan dirinya yang fana dan lemah. Tanpa kesadaran iman yang demikian, maka kita akan bersikap seperti para ahli Taurat dan imam-imam kepala yang tetap mengeraskan hati saat mereka berhadapan dengan Kristus.
Manakala dalam kehidupan sehari-hari kita mengalami kesunyian hidup yang begitu mencekam, bukankah batin kita sering begitu tersiksa? Kita merasa hidup ini tiada berarti. Itu sebabnya kesunyian hidup berupa perasaan kesepian sering mendorong seseorang untuk bersikap apathis, tidak memiliki semangat hidup, cenderung terlalu introvert (menarik diri dan bergulat dengan pemikiran dan perasaan sendiri); atau sebaliknya berupaya untuk larut dalam hiruk-pikuk dan hingar-bingar keramaian dunia ini. Padahal di balik kesunyian dan kesepian hidup sebenarnya juga mengandung berkat Allah yang tersembunyi sejauh kita mau menyikapi dengan iman dan relasi yang hidup dengan Allah serta sesama. Melalui kesunyian dan keheningan, sebenarnya kita dapat semakin belajar untuk lebih peka akan makna kehadiran Allah dan juga kehadiran sesama. Kita juga dapat belajar lebih rendah hati untuk menaklukkan berbagai temperamen yang sombong dan anggapan diri lebih baik dari pada orang lain. Artinya “padang gurun” kehidupan merupakan simbolisasi dari kenyataan hidup sehari-hari yang seringkali ditandai oleh perasaan sunyi dan sepi. Tetapi dengan sikap iman, dia berhasil mengubahnya menjadi tempat pemurnian temperamen dan kepribadian diri yang penuh cela, sehingga dapat menghasilkan suatu spiritualitas iman yang semakin berbobot dan menghasilkan buah.
Sesuai Janji Dan Nubuat Nabi
Walaupun karya keselamatan Allah di dalam Kristus terlebih dahulu dihadirkan Allah melalui pelayanan Yohanes Pembaptis dari kesunyian padang gurun, namun berita dari Yohanes Pembaptis tersebut memiliki pijakan normatif dari nubuatan kitab nabi Yesaya (Yes. 40). Apa yang diberitakan oleh Yohanes Pembaptis sebenarnya hanyalah penegasan ulang firman Tuhan yang pernah disampaikan Allah kepada umatNya. Sebab Allah tidak pernah lalai dalam menepati janjiNya (bdk. II Petr. 3:9). Dengan demikian berita tentang karya keselamatan Allah tersebut sungguh-sungguh merupakan berita yang berwibawa (otoritatif), sebab merupakan wujud dari perencanaan Allah. Tepatnya, kebenaran berita tentang karya keselamatan Allah yang dinyatakan di dalam diri Kristus tidak dihadirkan dalam ruang kosong, tetapi telah ditetapkan terlebih dahulu oleh Allah. Sehingga kehadiran diri Kristus dalam sejarah hidup manusia bukanlah kehadiran dari seorang tokoh yang “misterius” dan asing. KedatanganNya telah diramalkan dan terus dinanti-nantikan oleh umat sepanjang masa. Namun dalam penyataanNya di dunia, ternyata Kristus tampil dalam bentuk yang tidak terlalu dikenal. Dia memilih untuk menyembunyikan diriNya dalam kesederhanaan dan solidaritasNya di tengah-tengah orang berdosa. Itu sebabnya Kristus datang menemui Yohanes Pembaptis untuk dibaptis bersama dengan umat yang lain di sungai Yordan. Umat Israel waktu itu tidak mengenal jati-diri Kristus yang sesungguhnya. Hanya Yohanes yang mengenali diriNya. Bahkan menurut Injil Markus, sebelum Kristus datang di sungai Yordan, Yohanes Pembaptis telah mengetahui dan mengakui di hadapan publik bahwa Kristus yang akan datang di tengah-tengah mereka adalah lebih berkuasa dari pada dirinya. Dia begitu berkuasa dan mulia, sehingga Yohanes Pembaptis merasa tidak layak untuk membuka tali kasutNya (Mark. 1:8). Sikap Yohanes Pembaptis tersebut makin membuktikan bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah sebagaimana yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya. Sebab di Yes. 40:9b-10 menyaksikan: “Hai Yerusalem, pembawa kabar baik, nyaringkanlah suaramu kuat-kuat, nyaringkanlah suaramu, jangan takut! Katakanlah kepada kota-kota Yehuda: "Lihat, itu Allahmu!" Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya”. Messias yang dijanjikan Allah menurut nabi Yesaya adalah Allah yang berkuasa.
Betapa sering kita tidak mampu mengenali jati-diri Kristus yang sesungguhnya, padahal Dia sedang hadir di tengah-tengah kehidupan kita. Mata rohani kita seringkali buta, yang mana kesibukan dan dosa-dosa kita telah menghalangi diri kita untuk melihat kehadiran Kristus. Untuk mewujudkan dunia baru yang telah dikerjakan oleh Kristus, kita perlu terus melatih diri agar makin peka sehingga dapat bersikap sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Kita perlu memproklamirkan kuasa Kristus dengan sikap rendah hati, sehingga melalui hidup kita banyak orang yang tergerak dan terpanggil untuk datang kepada Kristus dengan sikap pertobatan. Jadi yang dipanggil Allah untuk menjadi bentara Kristus, bukan hanya Yohanes Pembaptis; tetapi juga setiap diri kita. Bedanya dengan Yohanes Pembaptis adalah dia mempersiapkan jalan agar banyak umat Israel waktu itu dapat menyambut Kristus. Sedangkan kita dipanggil sebagai pelayan Tuhan untuk berperan sebagai fasilitator yang membawa perjumpaan sesama dengan Kristus. Sedang persamaan panggilan antara Yohanes Pembaptis dengan kita adalah terus-menerus dipanggil untuk menjadikan Kristus sebagai pusat sejarah dan satu-satunya tujuan dalam kehidupan ini. Sehingga kita tidak berhak dan layak untuk menciptakan dunia atau kehidupan menurut kehendak dan keinginan kita, tetapi kita bekerja dan melayani Tuhan untuk menciptakan dunia sebagaimana yang telah ditebus oleh darah Kristus. Perspektif teologis yang demikian akan mengarahkan tujuan dan makna hidup kita untuk tidak bersandar kepada kekuatan dan usaha manusiawi, tetapi mau bersandar kepada kekuatan Roh Kudus. Bukankah sikap iman tersebut juga dinyatakan oleh Yohanes Pembaptis, ketika dia berkata: “Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus" (Mark. 1:8)? Pernyataan Yohanes Pembaptis tersebut mau menegaskan bahwa hanya Kristus saja yang dapat mengaruniakan Roh Kudus dan keselamatan kekal. Sehingga tanpa Kristus, manusia tidak akan mungkin dapat hidup menurut kehendak Roh sehingga manusia akan gagal untuk hidup benar di hadapan Allah.
Mengubah Kristus Ataukah Diubah Kristus
Kini banyak orang yang mengaku percaya dan mengikut Kristus. Tetapi apakah hidup mereka sungguh-sungguh telah diubahkan oleh Kristus? Justru yang sering terjadi tanpa mereka sadari adalah berupaya untuk mengubah Kristus menurut kehendak, pemikiran dan selera/keinginan mereka sendiri. Nama Kristus sering mereka ucapkan tetapi karakter dan orientasi kehidupan mereka tetaplah tidak berubah. Tepatnya mereka tetap hidup dalam belenggu dosa. Kalau Allah bersikap sabar justru dipahami oleh mereka sebagai kesempatan untuk terus berbuat dosa. Itu sebabnya mereka tidak berjuang dengan sepenuh hati untuk berproses dalam pembaharuan hidup yang sesuai dengan kehendak Kristus. Di II Petr. 3:9, firman Tuhan berkata: “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat”. Jadi manakala Allah tidak segera menghukum segala kesalahan dan dosa kita sebenarnya bertujuan agar kita diberi kesempatan untuk bertobat dengan mengubah diri sesuai dengan kehendak Kristus. Sebab manakala saatnya tiba, maka Allah akan menghukum setiap orang dan kuasa alam ini dengan kehancuran kosmis sehingga tidaklah mungkin setiap orang yang berdosa dapat melarikan diri dari hadapanNya. Tetapi bagi orang percaya yang hidup dalam proses pembaharuan hidup oleh kuasa Roh, mereka tidak sedang menantikan penghukuman dari Allah yang membinasakan, tetapi menantikan datangnya langit dan bumi yang baru. II Petr. 3:13 berkata: “Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran”.
Dengan demikian makna “bersama Yesus sang Messias, kita menghadirkan dunia baru” sesungguhnya telah dimulai dalam karya keselamatan dan penebusan Kristus. Realitas dunia baru tidak dimulai kelak di akhir zaman, tetapi telah dimulai pada kehidupan Kristus. Sebagai konsekuensinya kehidupan Kristus juga seharusnya dinyatakan dalam kehidupan kita pada masa kini. Ini berarti kita dipanggil untuk terus-menerus menghadirkan karya keselamatan dan penebusan Kristus dalam kehidupan di masa kini. Sehingga makna kehidupan masa kini bukan sekedar tersedianya suatu kesempatan untuk melanjutkan hidup yang ditandai oleh berbagai kesibukan, pekerjaan, meniti karier dan tercapainya kesejahteraan keluarga. Tetapi masa kini merupakan kesempatan yang berharga bagi kita untuk mengalami proses pembaharuan hidup yang ditandai oleh pertobatan dan pengudusan diri sebagai anak-anak Allah. Dengan pembaharuan hidup yang demikian maka segala kesibukan, pekerjaan, meniti karier dan kesejahteraan keluarga pada hakikatnya didasarkan kepada panggilan hidup kudus yang tak bercacat dan tak bernoda di hadapan Allah serta sesama. Kesibukan kita dalam bekerja bukan lagi sekedar manifestasi dari ambisi diri untuk memperoleh rezeki sebanyak-banyaknya, tetapi juga agar kehidupan kita dapat menjadi berkat bagi orang-orang di sekitar kita. Upaya kita untuk meniti karier tidak dilakukan sekedar untuk pengembangan diri, tetapi juga sebagai pelatihan diri kita mencapai kualitas hidup yang lebih baik. Kecintaan kita kepada keluarga bukan sekedar suatu ungkapan kasih untuk melengkapi berbagai kebutuhan ekonomis dan fasilitas yang dibutuhkan oleh para anggota keluarga, tetapi juga untuk membawa mereka agar dapat berjumpa secara pribadi dengan Kristus.
Panggilan
Jika demikian, apakah setiap diri kita telah menjadi bentara Kristus sebagaimana yang telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis? Apakah kita sungguh-sungguh memaknai setiap “hari ini” dengan melaksanakan karya keselamatan Allah? Ataukah hidup kita sering begitu larut dengan berbagai keramaian dan kenikmatan dunia, sehingga kita tidak terlalu peka untuk mendengar firman dan kehendak Tuhan yang sering memanggil kita? Jika demikian, mari kita hayati lebih mendalam suara panggilan Tuhan yang sering hadir dalam kesunyian hidup ini. Sehingga kita dapat mengubah kesunyian hidup menjadi kenyataan hidup yang berkualitas dan penuh dengan kasih. Amin.

0 comments:
Post a Comment